Segenggam Mimpi (25
Segenggam Mimpi
Tak ada yang bisa Miranda tunda. Ia harus menemui Raditya segera mungkin.
"Mira, kamu harus pikirkan baik-baik, jangan sampai nanti menyalahkan diri-sendiri," cegah Astuti sambil mengiringi langkah cepat Mira.
"Aku juga belum yakin sebenarnya As, tapi ini harus segera selesai masalahnya," dalam hati Miranda tak yakin dengan sikapnya.
Miranda terus melangkah ke arah parkir. Ia mengambil motor dan meninggalkan Astuti yang bengong di pintu keluar parkir.
Terik matahari siang itu telah menguras emosi Miranda. Dia tidak yakin dengan kabar Raditya ingin pindah ke Sulawesi. Selama ini ga pernah cerita kalau dia harus pulang kampung.
Miranda melarikan motornya dengan kecepatan tinggi. Motornya sekali-kali meliuk-liuk di antara motor lain. Ia tak peduli dibentak pengguna motor lain yang kaget dengan ulahnya yang memotong laju motor seenaknya.
Miranda menyusuri jalan Raya Bogor. Dia belok kiri setelah melewati lampu merah Cibubur. Dia harus mengurangi kecepatannya. Di depan pasar Miranda menghentikan motor dengan paksa. Seorang ibu menyelonong hendak menyebrang. Motornya direm mendadak untung tidak terjatuh. Matanya melotot ke arah ibu yang ketakutan.
"Mira, konyol luh," kata hatinya.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia berhenti di samping gerobak mi ayam.
"Aditya," gumamnya.
"Mira, kamu di mana?"
"Aku ke sekolah, kamu tidak ada."
Miranda diam. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
