Senyuman Ayah (31)
Senyum Ayah
Kesibukan sebagai agen asuransi tentu menyita waktu mengajar Karto. Waktu untuk mengajar makin berkurang. Karto sering meninggalkan tugas mengajar. Ia merasa telah mengkhianati profesi guru. Karto tidak ingin dicap guru yang tidak bertanggung jawab. Batinnya memberontak.
“Aku harus mengambil keputusan sekarang. Aku tak ingin terombang-ambing di antara dua gelombang,” pikir Karto.
Selepas Isya, Karto menemui istrinya. Ia akan menyampaikan keputusan yang mungkin membuat istrinya kaget. Ia sudah siap mendengar keberatan Murfiah. Bahkan, mungkin kemarahanyuman Ayah Murfiah. Ia sudah siap.
Di ruang tamu Karto memanggil Murfiah. Ia agak gelisah sebelum memulai menyampaikan maksudnya.
“Ada apa Kang, tumben. Ada yang serius iungin Kang Karto sampaikan ke saya?” Murfiah mulai membuka percakapan.
“Ya!”
“Penting Kang?”
Karto menatap wajah Murfiah dengan tatapan keraguan. Ada desiran halus menjalar di nadinya. Seakan mencegah untuk tidak mengatakannya. Ia takut kalau tiba-tiba Murfiah menolak keinginannya.
“Kang, kok diam. Katanya mau bicara serius.”
Karto menarik napas dalam-dalam. Ia buang pelan-pelan lewat hidungnya. Dadanya terasa berat.
“Aku harus mengatakan sekarang.” Ada keraguan terpancar dari sorot matanya. Bayangan ayahnya kembali hadir. Senyum ayahnya ketika mengatakan kepada Karto tampak jelas di hadapannya. Usapan tangan ayah di kepala terasa hangat.
“Karto ada yang ingin ayah tanyakan. Kapan kamu ujian?”
Pertanyaan yang mendadak itiu terdengar jelas di telinganya. Karto tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu. Ayah tak pernah menanyakan pendidikan anak-anaknya. Ayah seakan menyerahkan urusan sekolah kepada ibu. Tapi, malam ini ayah menanyakan ujian sekolah. Karto tidak tahu maksud ayahnya.
Lamat-lamat ayah berkata, “Karto, sebentar lagi kamu ujian ya?”
“Kalau lulus SMP, kamu mau ke mana?” tanya ayah sekali lagi. Karto masih belum mengerti arah pertanyaan ayah. Lalu ayah melanjutkan. “Karto, ayah ingin kamu menjadi guru. Ayah ingin keturunan Mbah Waan ada yang menjadi guru. Walaupun di desa kamu, lulus sekolah dasar kebanyakan langsung bekerja atau berdagang. Ayah ingin kamu tidak seperti itu.”
Dada Karto rasanya plong. Apa yang dia pikirkan ternyata tidak benar. Diam-diam ayah memikirkan pendidikan anaknya. Namun, apa alasan ayah saat itu belum beliau sampaikan kepada saya. Ayah hanya mengatakan keinginannya saja.
Karto tatap lagi Murfiah. Ia tak sampai hati untuk mengatakan yang sebenarnya. Wajah ayahnya telah menghentikan keinginan Karto. Ia tetap ingin menjadi guru sesuai harapan ayah. Senyuman ayah mengembang mengiringi harapan Karto.
Bogor, 27022022
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
