Tangisan Bayi di Tengah Pasar (Tagur 19)
Tangisan Bayi di Tengah Pasar (Tagur 18)
Oleh UBD
Hari pasaran selaku ramai dikunjungi warga yang ingin berbelanja. Hari pasaran biasa selalu penuh dengan pedagang dari berbagai daerah. Pedagang musiman ini menjajakan barang-barang yang hanya ada pada pasaran. Tentu saja dagangan mereka cepat laku karena langsung diserbu warga sudah menunggu satu minggu.
Seperti hari pasaran kali ini, suasana pasar Prembun sudah ramai sejak pagi. Masyarakat yang ingin belanja kebutuhan yang hanya ada pada hari pasaran berjubel. Mereka saling berpapasan dan saling senggol. Mereka hilir mudik mencari barang kebutuhan sehari-hari.
Suara tawar menawar terdengar riuh. Terdengar umpatan pedagang ikan yang tidak jadi dibeli. Teriakan pedagang musiman tak henti-henti bercampur suara pedagang asongan yang menawarkan dagangannya.
Di sebelah kiri pintu masuk terlihat dua ibu berbadan kurus saling berebut baju yang dihamparkan pedagang. Keduanya sama-sama ngotot tidak mau mengalah. Untung petugas keamanan yang berkeliling pasar cepat sigap melerai. Keduanya berungut-sungut sambil meninggalkan pedagang baju.
Di tengah pasar pedagang perabot tak henti-henti berteriak. Dia tak memikirkan orang lain terganggu oleh teriakannya. Sementara di pojok belakang pasar pedagang musiman ayam dan bebek sibuk mengikat kaki-kaki bebek yang sudah dibeli.
Suasana pasar Prembun makin siang berkurang ibu-ibu yang belanja. Menjelang jam sembilan kesibukan pasar agak berkurang. Biasanya jam sebelas pembeli sudah banyak yang meninggalkan pasar. Tinggal pedagang yang punya lapak di pasar tetap membuka dagangan sampai sore.
Mereka menggelar dagangannya di atas dipan terbuat papan dan kayu kaso. Dagangannya tertata lebih rapi. Bumbu dapur dan pedagang buah akan buka sampai sore.
Tiba-tiba seorang ibu setengah baya berteriak minta tolong.
“Ada yang mau melahirkan!”
“Tolong, bantu angkat ibu itu ke tempat yang longgar!”
Ia memapah ibu muda yang kepayahan. Ia dibantu beberapa pedagang pasar menyiapkan tempat. Ibu muda itu dibaringkan di atas tikar pandan di sebelah lapak buah yang sudah ditinggalkan pemiliknya.
Ibu setengah baya minta disiapkan beberapa kain untuk menutupi tempat itu. Ia minta beberapa ibu memegangi kain-kain untuk menutupi wanita yang mau melahirkan.
Pedagang jeruk segera mengambil baskom berisi air. Sementara ibu setengah baya berusaha membantu persalinan dengan segenap kemampuannya.
“Ambil napas bu. Ya tarik napas. Terus-terus. Sekali lagi tarik napas,” seru ibu setengah baya. Ia dorong perut buncit wanita muda itu pelan-pelan.
“Sebentar lagi, Bu. Ini sudah keluar kepalanya. Ayo tarik napas dan dorong sekuatnya.”
“Alhamdulillah, Allahu Akbar!” Begitu bayi keluar dengan mudah.
Semua yang menyaksikan persalinan di tengah pasar menjadi bersyukur. Mereka menyebut kebesaran Allah di tengah tangisan keras sang bayi.
Ibu muda yang baru saja melahirkan meneteskan air mata. Dia menangis sambil tak henti berucap syukur. Dia lihat wajah ibu setengah baya yang telah membantu persalinannya. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya, hanya tangisan mewakili rasa terima kasih tak terhingga.
Orang-orang yang ikut membantu dan berkerumun mulai meninggalkan ibu muda. Ia kembali melanjutkan aktivitas belanjanya. Para pedagang kembali menghadapi pembeli. Tawar-menawar kembali mewarnai hari pasaran di Pasar Prembun.
Bersama petugas keamanan pasar ibu muda ditandu. Di sampingnya ibu setengah baya menggendong bayi mungil. Ia akan menemani ibu muda ke puskesmas terdekat.
Matahari makin meninggi. Sinarnya sudah memanasi pasar. Beberapa orang sudah meninggalkan pasar dengan menenteng tas plastik hitam berisi belanjaan.
Tukang becak di depan pasar sudah banyak yang menawarkan jasanya. Becak motor alias bentor sudah siap mengantar ibu-ibu sampai ke rumahnya. Di pinggir jalan para kernek bus engkel sudah meneriakkan tujuannya.
Di sisi kanan pasar pedagang makanan sudah mulai sepi. Meja-meja tinggal sisa mangkuk. Kursi plastik sudah ditumpuk. Tenda bekas spanduk dilipat dan ditumpuk di dalam kardus bekas mi rebus.
Bogor, 15 Februari 2022
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
