AMBRUK
AMBRUK
Oleh : ubd
Malam belum begitu larut, tetapi suasana tampak mencekam. Wajah-wajah yang hadir di ruangan sempit semakin menambah sesak pikiran mereka. Ruangan berukuran empat kali lima meter hampir tidak mampu menampung aktivis dari berbagai kampus. Mereka berdiri berjelal menanti keputusan yang harus dilakukan esok. Hari yang akan menentukan masa depan bangsa.
"Saudara-saudara seperjuangan, kordinasi seluruh BEM sampai saat ini berjalan dengan solid. Kita tetap dengan keputusan yang sudah kita sepakati bersama." Suara Karto terdengar tegas. Gemanya memenuhi tiap jengkal ruangan. Seketika hening. Aktivis dari perwakilan BEM seakan membeku oleh gelora suara dan pancaran matanya.
"Kita harus tetap solid mengawal tuntutan. Kita tidak mungkin membiarkan penjahat konstitusi bermanuver liar. Kita jangan goyah menjaga konstitusi. Sebagai bagian elit masyarakat, mahasiswa harus tampil melindungi hak-hak konstitusional. Jangan sampai melabrak konstitusi dijadikan alasan melanggengkan birahi kekuasaan. Kita tetap dalam satu suara. Apakah kalian siap mengawal konstitusi?" Suara Karto makin menggelora. Tangan kanannya mengepal ke udara. Hidup mahasiswa! Hidup BEM! Semangat Karto langsung disambut teriakan yang hadir.
Napas Karto naik turun. Dadanya bergemuruh. Sebelum ia melanjutkan orasinya terlihat raut wajahnya menegang. Aliran darah dengan cepat memenuhi raut wajahnya.
Ia berhenti sebentar. Ia tarik napas kuat. Ia buang udara yang memenuhi rongga paru-parunya dengan pelan. Ia tatap para aktivis yang masih berdiri berjajal. Ia sapu pandangannya ke seluruh ruangan.
"Saudara-saudara, lusa mungkin bukan hanya kita para mahasiswa yang berdemo. Tapi,... ". Karto berhenti sejenak. Seakan ada ganjalan yang berat untuk meneruskan kata-katanya.
Semua aktivis yang ada di ruangan ikut tegang. Mereka ingin mendengar pernyataan Karto sebagai kordinator demo.
Malam makin mencekam. Di luar sisa-sisa hujan masih menetes dari atap tempat mereka berkumpul. Udara dingin yang berhembus menerobos ruangan belum mampu mengurangi hawa panas yang menyelubungi dada aktivis.
Karto berdiri kembali. Ia ingin meyakinkan kakinya menancap kokoh di keramik putih. Ia tak ingin goyah sedikit pun. Ia percaya dengan perjuangannya sesuatu yang benar. Ia menolak suara-suara yang sangat masif melanggengkan kekuasaan. Demi ambisi berkuasa. Orang-orang yang tetap mempertahankan kekuasaan tanpa peduli dengan rakyat yang menjerit. Rakyat yang menanti kesejahteraan, kedamaian. Rakyat yang tidak ingin diombang-ambingkan dalam badai politik. Rakyat yang dibentur-benturkan dalam perbedaan. Rakyat yang sudah bosan hidup dalam ketegangan.
"Tapi... !" Karto ingin melanjutkan kata-katanya. Tiba-tiba ia ambruk. Tubuhnya lemas. Kakinya masih kokoh menancap di keramik putih.
Citereup, 10 April 2022
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
