Mendunia dengan Karya Bermakna
Mendunia dengan Karya Bermakna
Ali Harsojo, S.Pd., M.Pd.
Dulu, rasanya sangat sulit mendengar kabar atau peristiwa dari daerah lain. Jangankan dari belahan dunia yang berbeda. Informasi dari lintas daerah dalam satu provinsi saja, mungkin hanya orang-orang tertentu yang bisa mengakses dengan cepat. Pada zaman televisi “hitam putih”, berita diperoleh dari koran dan televisi. Hanya orang tertentu pula yang bisa menikmati media itu.
Sekarang, sangat berbeda. Tidak perlu lama-lama, kita sudah bisa mengakses secara live sebuah acara atau peristiwa dari belahan bumi lain sekalipun. Kecanggihan teknologi informasi, seakan memanjakan kita untuk berlama-lama “keliling dunia” secara maya. Di samping untuk mencari informasi, juga sebagai hiburan. Tidak heran, apabila banyak orang dari segala usia, bisa bebas menikmati hiburan dan informasi di dunia maya.
Pertanyaannya, pada zaman yang serba canggih ini, apakah yang bisa guru lakukan agar bisa berkontribusi positif dan mendunia? Ya, benar bahwa guru dapat mendunia dengan karyanya. Artinya, membangun personal branding agar namanya abadi dikenal oleh dunia. Sebab, setiap karya yang dihasilkan akan terus dinikmati oleh generasi saat ini dan mendatang, meskipun karya sederhana namun bermakna.
Bagaimana caranya agar kita juga bisa mendunia dengan karya? Sebagaiamana pengalaman yang saya rasakan, bahwa untuk bisa dikenal dengan dunia luas, salah satunya kita harus konsistem membangun personal branding di dunia maya, juga dunia nyata. Di dunia nyata, beberapa hal yang bisa kita lakukan adalah menulis buku, berbagi di forum atau menjadi narasumber, menulis di media cetak dan lainnya. Di dunia maya, dapat berkarya dengan cara memanfaatkan media sosial, menjadi blogger kreatif, youtuber produktif dan lainnya.
Secara lebih rinci, aktivitas berkarya yang dilakukan adalah sebagai berikut.
Pertama, Menulis Buku. Menulis buku berarti mengabadikan nama kita. Sebab, buku adalah kartu nama kita yang akan menjelajah dunia. Orang lain dapat mengenal seseorang dari buku yang dibacanya. Semakin luas pembacanya, maka nama penulisnya semakin dikenal.
Kedua, Berbagi di Forum atau Menjadi Narasumber. Menjadi narasumber dan berbagi pengalaman merupakan salah satu cara agar kita bisa dikenal oleh orang lain. Minimal peserta di forum itu. Baik seminar, workshop maupun diklat. Apalagi saat ini, seringkali dilaksanakan secara daring. Semakin sering menjadi pembicara, maka nama kita makin mendunia.
Ketiga, Menulis di Media Cetak. Banyak nama-nama tokoh yang kita kenal, justru dari media cetak. Terutama ketika media cetak menjadi primadona di zamannya. Saat inipun, kita masih bisa menulis di media secara online. Semakin sering menulis di media, maka nama kita akan semakin dikenal dunia.
Keempat, Memanfaatkan Media Sosial. Di jejaring media sosial, dengan cepat, kita dapat dikenal oleh dunia. Oleh karena itu, produktiflah dengan karya di berbagai media sosial. Entah tulisan quotes, sastra maupun non fiksi. Tentu saja sesuai dengan passionnya masing-masing. Bahkan, media sosial juga efektif dijadikan wadah untuk menulis diary.Misalnya menulis di facebook, twiter, dan sebagainya.
Kelima, Menjadi Blogger Kreatif. Blog pribadi maupun komunitas, menjadi salah satu wadah bagi kita untuk mendunia dengan karya. Tulisan kita bisa diakses dan dibaca banyak orang di media website itu. Sebagaimana web pribadi saya, sudah dibaca lebih dari 6,5 juta orang dalam waktu 3-4 tahun dari berbagai negara. Ini berarti, karya kita selalu abadi di dunia maya. Saat ini, termasuk memperbanyak karya di Plaform Merdeka Mengajar (PMM). Keren.
Keenam, Menjadi Youtuber Produktif/ Content Creator. Nah, you tube juga bisa membuat nama kita mendunia. Berkaryalah dengan tepat sesuai dengan kemampuan kita. Misalnya, membuat video pembelajaran, tutorial, motivasi, pelatihan dan sebagainya. Semakin banyak yang mengakses, maka nama kita makin mendunia. Content Creator, kenapa tidak?
Jadi, sebenarnya, kita bisa mendunia dengan karya kita. Meski sederhana, namun bermakna. Jangan takut untuk tidak popular. Sebab, popularitas itu bukan tujuan utama. Namun, mengabadikan karya bermakna kita di berbagai platform, justru lebih penting. Sungguh.
Tentang Penulis
Ali Harsojo, lahir pada tanggal 18 Januari 1978 di sudut kota kecil paling timur pulau Madura, Sumenep. Ia adalah alumni Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya pada tahun 2013. Saat ini, Ia mengajar di SDN Pajagalan 2 Sumenep. Aktif dalam kegiatan literasi dan tergabung dalam beberapa komunitas literasi: Mediaguru Indonesia, Gladhi Kusuma Jatim, FSG Sumenep, dan Pusaka Sumenp. Belajar menulis di surat kabar lokal, media online, majalah literasi dan beberapa buku antologi. Ia adalah Gurusiner Terbaik Pemenang 1 Tahun 2023.
Ia lolos di beberapa Lomba Antologi Media Guru Indonesia. Pemenang Lomba Antologi Mediaguru Selamat Datang Mas Nadiem tahun 2019 hingga bulan Oktober 2023. Buku pertamanya adalah Samudera Inspirasi di Facebook (Pustaka MediaGuru) yang diluncurkan bersama pada acara Gebyar Literasi dan Temu Penulis Nasional tanggal 20-21 Mei 2017 di Kemdikbud Jakarta. Buku solo berikutnya adalah Bedah Literasi Kelas (Catatan Literasi Pak Guru) dan beberapa buku lainnya
E-mail: **(censored)** HP. **(censored)**
Web: alee.gurusiana.id, **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
