Tersayat Sembilu (Seri Cerpen Empang Entun)
Empang masih duduk termangu. Tidak bisa berkata-kata, bisu. Tak menghiraukan lagi langit sudah legam. Mentari pun lenyap di kaki ufuk, kembali ke peraduannya. Tampak kelelawar mulai keluar beterbangan menyasar rerimbun dedaunan yang bersiluet dengan remang senja. Suasana sepi,sunyi.
Adzan magrib berkumandang. Empang tak sadar tengah berada dalam lamunan panjang. Ia lupa apa yang harus dilakukannya. Matanya sembab sembilu. Tangisnya tak terhenti, ditelan petang yang mulai mengaburkan pandangan. Sementara, angin sepoi telah mulai menyirna. Berganti suara sayap nyamuk yang mulai beterbangan.
Empang tak kuasa menahan pilu. Kakinya kaku untuk bangun. Serasa beku sekujur tubuhnya. Tidak ada tenaga untuk sekadar bersandar pada lemari di ruang kerjanya. Ruang kerja di sekolah yang biasa digunakan Empang untuk menyalurkan hobinya, melukis. Kali ini, benar-benar melukis rindu yang mendalam.
Ia menerawang jauh dengan pandangan kosong. Masih teringat kata-kata ucapan sang istri pagi tadi. Cintanya sangat besar, hingga hanya wajah sang istri menjadi tatapan setiap jeda waktu. Ruh istrinya telah menjadi napas dan darahnya. Setiap helaan napasnya, selalu ada Entun. Setiap merasakan denyut nadinya, istrinya yang terbayang. Riwayat chat dan panggilan, menumpuk dengan nomor sepasang kekasih, suami istri ini,
Memang, tidak ada yang sempurna. Namun, Empang menyadari, cintanya adalah anugerah yang besar dariNya. Kebahagiaan yang harus ia rawat hingga akhir. Bahkan sampai hidup kekal sesudah kematian. Itulah cita-cita besarnya. Tak heran, Empang pun tidak melewatkan sejeda waktu pun untuk senantiasa membayang sang istri.
"Abi, Umi tahu Abi sedang di sekolah. Umi juga masih di sekolah" chat Entun pagi itu dengan datar.
Memang, sejak tiga bulan lalu, Entun pindah mengajar. Promosi naik pangkat. Hingga dipindah ke sekolah lebih maju. Tidak ada firasat apa-apa. Empang menyambut chat istrinya dengan bahagia.
“Iya, Umi. Semoga sehat selalu ya sayang. Makin hebat dan cantik sholihah” balas Empang penuh asmara.
"Tadi Malam, Umi hampir semalaman tertidur, Umi sebelum pukul 9 dan belum sempat ucapkan selamat malam pada Abi. Abi sibuk bekerja di ruang tengah. Umi bangun pukul 00.50, ingat abi yang selalu bekerja. Baru gosok gigi jam segitu. Mungkin karena hanya tidur siang 20 menit saja. Maaf, ya Bi." lanjut sang istri panjang lebar.
"Iya Umi, Abi memang agak sibuk. Maafin Abi ya sayang. Abi sayang Umi" balas Empang romantis. Lalu sang istri membalas dengan emoji daun waru merah, tanda cinta.
Semangat Empang hanya berlangsung sekejab. Rupanya perbincangan mesra awal lagi itu menjadi malapetaka bagi Empang. Tak disangkanya bahwa sang istri menyimpan sejuta amarah yang belum diungkapkan.
Sejak kepindahan istri dari sekolah Empang, Entun lebih mandiri naik motor sendiri. Berangkatnya pun tidak bersama. Meskipun, mengajar di daerah yang tidak terlalu jauh, namun searah. Beda kecamatan. Entun selalu menyempatkan diri mampir di sekolah lamanya, tempat suaminya bertugas. Rasa cintanya pada sang suami, juga sangat besar. Ia harus mengantarkan bekal sarapan pagi dan teh lemon hangat kesukaan Empang dengan bahagia.
Pagi itu, hambar. Setelah mesra beberapa potong kalimat, Empang berubah lunglai. Tubuhnya lemas, seperti sarafnya luruh. Tidak ada tenaga. Tidak menyangka, apa yang Empang lakukan membantu siswa menyeberang jalan menjadi petaka. Apa yang Empang bicarakan dengan wali murid di jalan itu menjadi sumber cemburu membara.
"Abi, tadi pagi dengan semangat, Umi lewat, dan mau mampir antar sarapan Abi. Namun, di luar nalar Umi, Bi. Abi lebih sibuk dengan ibu yang lain. Di pinggir jalan sebelah kanan" chat Entun tiba-tiba membunuh semangat Empang.
Wajah Empang pucat pasi. Seperti tak berdarah. Sekujur tubuhnya terasa ringan. Matanya menjadi berat. Jemarinya kaku. Perutnya mulai sakit. Maagnya kambuh. Empang melangkah gemetar, dan harus istirahat di ruang UKS, beberapa saat.
"Umi hanya senyum pada pak Hendra, KS Abi. Anak kita, Ganda sampai bertanya, Bi. Umi, Abi mana ya kok gak ada? Biasanya sudah ada" chat Entun seperti penuh kecewa.
"Mungkin Abi gak piket hari ini. Padahal Umi tahu Abinya menghadap arah selatan, ngobrol sama ibu tadi. Bi, siapakah ibu yang cantik itu Bi. Sehingga mengalahkan Abi untuk lepas pandangan dari Umi, Umi diabaikan"lanjut Entun bertubi-tubi.
Empang menjadi bingung. Apa yang ditulis istrinya, dibaca terbatadan berkaca-kaca. Air matanya membilasi pipinya yang mulai menua. Tak ada waktu untuk cepat membalas. Ia segera mengusap air matanya. Menyeka bulir suci di pipinya, sambil rebahan di bed UKS.
"Abisampai tak awas atau memang menghindar dari Umi? Terima kasih untuk pagi ini, Bi? chat Entun beruntun.
"Umi, tadi itu wali murid. Abi tanya, kenapa tidak pakai mobil antar anaknya. Biasanya pakai mobil, kok sepeda motor. Ia mengatakan bahwa mobilnya sedang dipinjam ponakannya" jawab Empang mencoba menjelaskan apa adanya.
Empang pun tak habis pikir, mengapa ia lalai menunggu dengan sempurna sang istri. Di sisi lain, ia harus membantu siswa dan memastikan wali murid juga mengantarkan hingga pintu gerbang.
"Umi ingat, ya benar Abi menghadap ke selatan, dari utara, Umi lihat Abi saat menyeberang. Dengan senang hati, wah pasti sudah nungguin Umi di sisi sebrang jalan. Namun ternyata, bukan Umi yang menjadi tujuannya." lanjut Entun memporak-porandakan hati suaminya.
"Umi. Abi tidak tahu harus menjelaskan bagaimana lagi. Tidak ada apa-apa, sayang. Abi hanya tanya tentang kenapa antar pakai motor. Tidak ada lainnya. Percayalah!' jawab Empang kehabisan kata-kata.
Empang tak mampu lagi menjelaskan dengan gamblang. Sebab, penjelasannya tidak mendapat respon yang dimengerti sang istri.
"Abi, ketahuilah, Walau dengan waktu yang mepet, sempatkan lewat mau mampirkan bekal Abi,, eh ternyata di depan mata, namun seolah tak tampak atau memang bukan untuk menunggu, Umi." lanjut Entun bertubi-tubi.
Rasanya Empang ingin melempar gawainya. Sebab, apa yang Empang katakan sebenarnya, juga belum dimengerti sang kekasih. Empang mengepal, memukul tembok dinding itu.
Namun, Empang juga menyadari bahwa apa yang ia lakukan telah membuat hati sang istri kecewa. Bahkan, terluka dengan api cemburu yang besar.
"Umi, jika Umi marah karena cemburu, berarti Umi memang cinta sayang Abi yang besar. Maafkan kelalaian Abi. Sungguh Abi tak melihat kehadiran Umi. Meski, sejak pagi, Abi benar-benar menunggu Umi." jawab Empang menjelaskan.
Entun tak segera membalas chat suaminya. Membuat hati Empang semakin gusar. Kebagiaannya berubah menjadi petaka. Hati Empang tersayat pilu. Meski Empang juga memahami hati sang istri juga mengalami hal yang sama.
"Umi, Abi terima marah Umi. Maafkan Abi, sayang. Abi sungguh tidak mengerti, mengapa menjadi seperti ini." lanjut Empang teramat sedih.
Di tengah lamunan dengan derai air mata itu, Empang tertidur. Sementara sang istri menunggu di rumah. Entun juga khawatir. Mengapa sang suami belum juga pulang. Sebentar lagi waktu shalat isya.
“Abbiiii, get up please. Bi, bangun” tiba-tiba sang istri vicall membangunkannya.
Bagai mendapat durian runtuh. Empang bahagia dengan VC sang istri. Di tengah gelap ruangan, ia segera membalas ucapan sang istri.
“Makasih sayang, Abi sayang Umi.” Kata Empang banjir air mata.
Empang segera bangkit. Ia pulang menelusuri jalan yang bertabur lampu jalan. Pikirannya telah berada di rumah, memeluk erat sang istri. “Umi, wait for me”gumamnya di lampu merah.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
