Sentiasa Air Menenang
Musim kemarau menyisakan terik
Mentari kian menyampu mayapada
Dedaun mengering, ranting kerontang
Sungai-sungai sirna sebab retak tanah
Malam tak lagi sejuk
Namun, jiwa seumpama telaga yang tenang
Tak ada riak gelombang yang menggulung
Sabar dalam penantian
Saat musim hujan membanjir
Sungai meluap menggerus sisa sampah
Atau lautan bak tsunami menguncang
Dengan gulungan ombak memecah karang
Atau malam mulai gigil
Namun, hati tetaplah tersabar
Sentiasa air menenang
Seolah tiada yang terjadi
Sabar dalam lembah kerinduan
Tabah dalam jurang kecemburuan
Bukankah Tuhan menjejeri takdir
Pada setiap kehidupan kita?
Di sanalah luasnya hati menyamudra
Tenangnya jiwa mendekap sahaja
Sentiasa air menenang
Diam dalam sunyi
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan