Senja Tak Biasa
Senja Tak Biasa
Tiba-tiba mendung menyapu alun-alun kota
Tiupan angin kencang menggoncang
Jiwa yang terbungkam
Sebab halilintar memekik telinga
Kumemandangi mentari yang menyelinap di antara mendung ufuk
Sementara aku di bawah gumpalan awan legam
Hujan, pikirku
Tak biasa, menakjubkan
Senja itu pelangi kembali mengalungi awan
Kusedia payung jingga pemberianmu
Sekadar berjaga akan kuyup
Mendebarkan
Kilatan petir membelah langit
Aku masih di ujung jalan
Menutup telinga membilasi air mata
Aku berjalan dengan segunung rindu
Ternyata, mendung tak hujan
Namun, gerimis deraikan tak tertahankan
Selangit rindu tak berkesudahan
Sesamudra renjana tak kuasa kusembunyikan
Senja tak biasa
Mendung tak segera hujan
Kuberpikir di bawah pohon rindang
Sembari menikmati mentari yang mulai tenggelam
Akankah malam ini hujan?
Ataukah derai tangis yang kian meradang?
Ataukah apa yang kan terjadi
Jika gigil malam datang?
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
