Tak Terduga (Lanjutan Prolog Novel Sepatu Aisyah)
Tak Terduga
(Lanjutan Prolog Novel Sepatu Aisyah)
Hari itu aku bahagia. Setelah kukabarkan tentang kondisiku pasca dirawat di rumah sakit, aku mulai bisa berjalan lagi. Ternyata kamu datang. Meski derai ini tak pernah kamu tahu, tentang sikapmu yang tak menentu.
Aku menuliskan kabar di chat WA. "Aisyah, aku sudah mulai sembuh. Kakiku kembali berjalan. Melangkah menuju harapan. Tanganku mulai bisa mengayun sambil rindu senantiasa kutenun. Kepalaku mulai ringan dengan sejuta keinginan. Kuharap dengan sujud, kau bisa hadir menjengukku. Meski mulai aku terjatuh, kau hanya berkirim ucapan simpati 2 kali"
Aku tulis dengan derai air mata renjana. Ternyata, esoknya kau benar-benar datang. Aku bahagia sekali. Meski tak lagi mengenakan sepatu kesayanganmu, yang pernah aku patahkan 3 tahun lalu. Aku sangat sedih. Hingga kini tak bisa mengganti kecerobohanku, sepatumu patah mendua. Meski kau mengikhlaskannya, tapi seperti ada yang kurang bagiku.
Ya, engkau hadir dengan senyuman. Kau membawa oleh-oleh kesukaanku. Makanan khas daerah kita. Tampak kau memperhatikanku saat aku menyantapnya, di sisimu. Seolah kita adalah raja dan ratu di singgasana kerajaan di lereng gunung Lawu. Aku merasa tersanjung ketika kau pun membisikkan tentang kita, masa depan yang dicitakan. Hanya kita berdua di teras rumah. Allah pasti mendengar dan mengabulkan cita yang dimohonkan. Aku meyakininya. InsyaAllah.
Aku bertambah senang ketika engkau mulai menyeka keringatku, di pelipisku. Meski dengan secarik tissue, seolah padu kita semakin menguat. Tak terpisahkan. Kau mulai menunjukkan foto dan video ketika engkau sedang studi. Tampak sangat rajin menuntut ilmu. Tentu saja sesuai dengan harapan orang tua.
Hari itu serasa sangat singkat. Meski kita ngobrol lebih dari 2 jam, masih terasa 5 menit. Kebahagiaan hari itu, terasa tak terukur. Dan tidak bisa dibandingkan dengan materi apapun. Tidak bisa disandingkan dengan sejumlah harta apapun. Bahagia banget.
Namun, sesaat engkau pulang, mendadak suasana berubah menjadi muram. Sungguh tidak kuduga. Sama sekali tak terduga. Bukan lagi merasakan sedih. Namun, sangat teriris dan perih. Kepedihan itu, bukan saja sebab cemburu yang menggunung. Akan tetapi, rasa tegamu ternyata tetap tak berubah. Bukan saja gambar atau foto saat kuliah yang kau sajikan. Lebih dari itu, kau hamparkan semua aktivitasmu dengan orang yang kau kasihi. Atau bahkan pilihan hatimu yang kekeh dan abadi. Meski kau tak berikan secara langsung, namun caramu tetap belum bisa diterima dengan nalarku. Apalagi perasaanku. Tercabik rasanya hati ini. Caramu memang elegan. Tanpa ragu dan memikirkan perasaan orang lain kau suguhkan pemandangan yang romantis. Sungguh bahagia dirimu.
Aku bangun dari tidur. Aku beranjak dengan kesadaran. Ternyata aku bukan siapa-siapa yang mesti diperhitungkan. Aku hanyalah seonggok jazad yang tiada guna. Atau pribadi yang lemah dan mudah dibujuki. Aku adalah pujangga yang kehilangan kata-kata. Atau pengarang yang gampang dibuang.
Tidaklah mengapa. Itu hakmu dan privasimu. Aku tiada hak untuk mengatur rasa, pikir hati dan jiwamu. Bukankah engkau telah melakukannya berpuluh kali? Bukankah derai ini telah cukup untuk membasuh sayatan lukaku? Hanya saja aku terus bertabah dengan alam. Bersabar dengan malam. Bersahaja dengan senja.
Ingin sekali kembali menulis surat untukmu. Seperti dulu saat kau baru pertama kali meninggalkan kampung halaman ini, masuk kuliah. Namun, aku urungkan untuk berkata-kata. Kubatalkan untuk menulis puisi. Sebab, engkau telah bersamanya, pilihan hatimu.
Kutak tahan angin malam. Hingga mengharuskanku masuk ke bilik kecilku. Melanjutkan tangis lukaku. Entah sampai kapan.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
