Tersenyum, Terderai (Lanjutan Prolog Novel Sepatu Aisyah)
Tersenyum, Terderai
(Lanjutan Prolog Novel Sepatu Aisyah)
Tiba-tiba aku terbangun dari tidurku. Tidur sore yang jarang aku lakukan. Namun, lelah telah mengalahkan ragaku. Aku harus tidur walau sebentar. Sesaat sebelum terbangun, engkau hadir dalam tidurku. Senyummu merekah dan membuat jantungku berdebar kencang. Ingatanku mengembara pada senja di bawah air terjun grojogan Sewu, waktu itu. Semua tampak jelas tentang apa yang dikata dan dibisikkan di telingaku. Ya, kita akan padu dalam renjana bahana. Bukankah, burung-burung senja itu pun beterbangan di sekitar kita? Atau dedaunan yang mulai gelap sebab mentari kan segera tenggelam? Segar ingatanku pada setiap ruas jemarimu, titik pori dan lereng lesung pipit pipimu serta letak tahi lalat yang berselaras dengan senyummu.
Aku selalu bertanya, tentang hati dan jiwa. Selalu memastikan berada pada khatulistiwa yang sama. Resonansi dan frekuensi yang serasi, sepadan seirama.
Memang, selalu ada jawaban. Itulah yang kupikirkan selama dua belas purnama. Ketika aku tanya tentang senja, malam selalu menjadi alasan. Saat malam aku menunggu dengan derai air mata, waktu siang selalu salah. Tidak istirahat, banyak undangan menjadi motivator, pekerjaan rumah, mengantar ibu atau ayah ke klinik, ujian kompetensi, dan lainnya. Jika kutanya tentang pagi, maka malamlah yang salah. Sebab, segala hiruk pikuk kesibukan selalu mendera. Putaran waktu terus berjalan, seolah tak mau tahu tentang jiwa yang gelisah atau rasa yang cemburu pada waktu, pada siang, pada malam, pada senja dan pada pagi.
Selalulah ada jawaban. Bukankah kita berada pada tepi pantai yang sama. Melakukan dayung perahu di laut yang sama? Berbahagia menyambut senja di ufuk yang sama? Merasakan sensasi sun set pada matahari yang sama? Ya, mungkin bagi engkau yang bijak menata kata-kata. Atau hebat dalam menahan sendu. Perspektif yang kokoh terhadap logika. Namun, aku belum menemukan satu mutiara indah dalam mimpiku yang mengharuskan lupa terhadap cemburu, meniadakan rindu atau menanggalkan cita. Ketakmampuanku meracik senja yang gerimis atau menghentikan malam yang hujan tangis.
Tenang saja, aku masih bisa tersenyum menenun cita atau tersenyum pada bingkai wajahmu yang selalu ada dinding hati atau terpaku pada pintu hati terdalam. Lalu, aku terderai membilasi rindu yang menyendu atau melukis senja yang rana atau merangkai mimpi pada malam temaram. Entahlah..
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
