Jerit di Jalanan Negeri
Di alun-alun kota, suara pecah— bukan denting gamelan, bukan kidung doa subuh, melainkan teriakan rakyat yang menuntut hak, yang haus keadilan, yang lapar akan kesejahteraan.
Langit berwarna abu, asap mengepul dari ban yang terbakar, sementara di bawahnya ribuan dada berdegup serempak, membawa poster, membawa mimpi, tentang negeri yang katanya merdeka, namun perut anak-anak masih keroncongan.
"Di mana janji itu?" teriak seorang tua dengan suara serak. "Di mana kesejahteraan yang kalian iklankan?" tanya seorang ibu sambil menggenggam tangan putrinya, yang esok mungkin tak bisa membeli buku sekolah.
Di seberang barisan, tameng-tameng besi berdiri kaku, mata-mata mereka dingin, namun di balik helm baja, ada wajah-wajah muda yang sebenarnya juga resah— mereka pun anak negeri yang sama, yang menunggu beras di meja, yang menginginkan rumah tanpa bocor hujan.
Lalu waktu berhenti sejenak— antara teriakan rakyat dan derap sepatu aparat. Apakah negeri ini masih punya ruang untuk mendengar tangis sendiri? Ataukah kita rela menutup telinga dan membiarkan jalan-jalan jadi altar pengorbanan suara rakyat?
Indonesia, tanah airku, jangan biarkan nyala harapan padam. Dari jalanan penuh debu ini, dari keringat yang jatuh di aspal panas, kami masih percaya, bahwa keadilan bukan sekadar kata manis, melainkan hak yang seharusnya tumbuh di dada setiap manusia yang lahir di pangkuan ibu pertiwi.
Sumber: Dihasilkan oleh AI
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
