CINTA TERHALANG SAMUDERA(10) ( Efisode terakhir )
CINTA TERHALANG SAMUDERA (10 )
( Efisode terakhir )
Oleh. Alina Said, S.Pd.
Hari ini Arumni musti pagi_pagi sampai di kantor. Ia ingin bersua dan bercakap sama Pak Surya tentang keinginan dirinya untuk pulang ke Sumatera. Di perjalanan bibirnya tak berhenti berdoa. Raut wajahnya tampak tak secerah hari _hari kemaren. Arumni sangat terpukul sukmanya mendengar Bapaknya sakit. Setiba di kantor, Ia lihat Rusi sudah berdiri bagaikan patung di lobi_lobi. Arumni menghampiri Rusi dan bertanya apakah Pak Surya sudah datang atau belum. Rusi menjawabnya belum. Rusi pun bertanya pada Arumni apakah jadi ke kampung. Arumni membalasnya dengan menganggukkan kepala.
***
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, terlihat sepasang mata menatap mereka. Siapa dia? Ia adalah Bellani. Bahasa tubuhnya menginformasikan seperti telah lelah mengganggu. Ketika Arumni melirik Bellani, Bellani berusaha memalingkan roman mukanya. Ekspresi Arumni sontak berubah tatkala melihat tingkah Bellani. Namun tetiba suram kembali. Desau kalbunya membuncah ingat kepada orantuanya . Ketika mereka sudah di ruang kerja, Pak Surya pun muncul. Perasaan Bellani jadi gaduh tak menentu. Arumni ragu apakah Pak Surya mengizinkan Ia cuti atau tidak. Arumni berusaha untuk tenang. Arumni menepis perasaan itu lalu pun sirna dan langsung beranjak memberanikan diri, masuk ke ruang kerja Pak Surya. Rusi sempat kaget tak biasanya Arumni tanpa dipanggil masuk ke ruang kerja Pak Surya. Tiba di bibir pintu , sembari mengucap salam, Arumni bersuara. Pak Surya mengizinkan masuk dan sekarang Arumni sudah berdiri di depan Pak Surya.
" Pak, boleh saya duduk? "Tanya Arumni. Pak Surya mengangkat kepalanya. Ternyata Arumni sudah berdiri dihadapannya. Dengan suara agak serak, takut jangan_jangan Pak Surya tidak mengizinkan cuti.
" Ada apa, Rum? " Tanya Si Bos
" Saya mohon izin cuti Pak, ingin pulang kampung, Bapak saya lagi sakit.," Ujar Arumni lirih dengan gagap. Matanya sudah mulai terasa sembab dengan membayangnya air semaian bulir kristal.
" Oh, begitu...Boleh, Bapakmu Rum sakit apa? " Tanya Si Bos lagi.
" Demam biasa Pak, namun sering ngiggau nyebut nama saya. Saya ingin sekali pulang.
" Tapi waktu untuk cuti, hanya saya kasih cuma seminggu ya, " Tegas Pak Surya. Lalu. Serr... palung hati Arumni berdesir sangat senang.
" Jadi, boleh kalau begitu Pak!" Sambung Arumni.
" Ya,... " Jawab Pak Surya. Lalu sontak Arumni mengucapkan terimakasih.
" Rum, hati_hati di perjalanan ya," Ucap Pak Surya lagi. Langkah Arumni jadi terhenti mendengar pesan Pak Surya. Sambil bermonolog dalam hati, Pak Surya orangnya memang baik. Rugi dan sangat disayang tidak kenal dengan Pak Surya.
***
Sesampai di luar Arumni disapa oleh Rusi. Rusi menanyakan percakapan mereka. Rusi jadi tertarik ingin ikut juga bersama Arumni. Jika Pak Surya berkenan, Rusi ingin menemani Arumni. Karena pekerjaan kantor untuk satu Minggu ke depan tidak terlalu sarat. Dengan alasan tersebut, mereka berdua kembali menemui Pak Surya. Awalnya Pak Surya keberatan, tapi karena mereka berdua karyawan yang baik. Pak Surya memberikan dispensasi hitung_hitung sebagai motivasi untuk bekerja selanjutnya. Rusi saking senangnya. Di netranya sudah membayangkan bagaimana situasi perkampungan. Maklum Rusi orangtuanya tinggal di Jakarta yang jarang menyatu dengan alam. Secepatnya kedua karib itu meninggalkan kantor. Rusi berusaha menghubungi salah seorang temannya yang bekerja di Bandara menanyakan tiket. Ternyata tiket untuk berangkat ke Ranah Minang untuk pukul 15.30 sudah habis. Namun kesempatan untuk berangkat hari ini, cuma berangkat pukul 19.00 WIB malam. Rusi berusaha menghubungi Arumni. Jawaban Arumni hanya terserah Rusi. Akhirnya Rusi putuskan untuk berangkat dengan pesawat pukul tersebut. Setelah itu Rusi pulang ke rumahnya dan berjanji bertemu Arumni nanti di bandara. Sementara Arumni menyempatkan diri ke Mall untuk membeli ole_ole buat adiknya, Ibu beserta Bapaknya di Sumatera.
***
Sore pun bersulih malam. Sang surya perlahan merayap menuai janji dan bercengkrama di peraduannya. Sekejap mayapada merentas temaram. Senja pun juga menyemai ketulusan. Semeliran kenderaan dengan klaksonnya yang hiruk-pikuk melintasi jalan serasa memekakkan telinga. Kemudian membukam sepi menuju Istana Raja pesawat. Perjalanan waktu tak pernah disadari manusia. Dengan kemajuan semua bisa cepat. Arumni sudah memasuki istana transfortasi udara tersebut. Dari kejauhan Ia melihat Rusi sudah menunggu. Rusi diantar orangtuanya dengan mobil pribadinya. Setelah mereka bertemu, kedua karib itu menuju ruang tunggu. Tak berapa lama kemudian informasi untuk pesawat terbang ke Ranah Minang sudah diinformasi oleh petugas. Rusi dan Arumni sekarang sudah berada di pesawat. Waktu begitu cepat berlalu berdenting mengikuti putaran jarum. Pesawat sudah tinggal landas menerbangkan sahabat karib tersebut.
***
Tepat pukul 21.00 WIB. Arumni bersama Rusi sudah sampai di BIM. Memesan taksi lewat gawainya untuk menuju rumah orangtuanya. Terbayang adiknya yang sudah sekian lama menyatakan kangen. Bapaknya yang lagi tidur sakit. Perasaan sedih menghujam batin. Di dalam taksi Rusi tak banyak bertanya. Ia begitu mengerti dengan perasaan karibnya. Rusi peggang bahu Arumni agar Arumni sedikit lega. Sesampai di rumah orangtuanya dari kejauhan adiknya sudah menyonsong.
" Kakak......Rini kangen.," teriak adiknya yang masih berumur 15 tahunan. Haru campur bahagia Arumni peluk dan belai adiknya,. Tetiba kembali bening kristal itu berjatuhan membasahi pipi Arumni. Ibunya juga menyongsong sampai bibir pintu. Arumni menyalami Ibunda tercinta. Memeluknya suasana pecah oleh tangisan Ibu dan dua orang anaknya.Rusi hanya memandang Arumni dan ikut juga terbawa arus sedih namun ada juga senang bisa bertemu langsung dengan keluarga Arumni.
" Bapak mana Bu? " Tanya Arumni dengan suara serak. Tas yang ada ditangannya dibiarkan saja tergeletak di meja. Selanjutnya Arumni berlari masuk ke kamar orangtuanya.
" Bapakmu sudah agak mendingan, daripada kemaren Rum. Ia tahu Rum, Arumni pulang hari ini," Sambung Ibunya seraya mengikuti Arumni dari belakang dan disusul oleh Rusi. Derai air mata bergulir kembali di pipi Arumni.
" Bapak..., Arumni pulang Pak! " Rintih Arumni seraya sujud di samping tubuh Bapaknya.
" Rum, sudah pulang... bagaimana keadaanmu, Nak? " Ujar Lelaki tua itu. Sambil mengurut wajahnya. Arumni semakin tersedu. Ia rasakan kening di wajah Bapaknya tidak terlalu panas.
" Bapakmu mungkin kelelahan,. Rum, "Ucap Ibunya.
" Besok Arumni bawa Bapak ke Rumah Sakit Bu, mungkin saja Bapak ada gejala tipus.
" Nggak usah Rum, Bapak udah mendingan, " Jawab Bapaknya menangkis pembicaraan Arunni.
"Nggak, apa_apa Pak, biar Bapak dikasih vitamin dan obat untuk penguat tubuh" Ujar Arum lagi.
Bapak Arumni cuma diam. Sejenak Arumni duduk di pembaringan Bapaknya memijit_mijit kaki sang Bapak. Kemudian Arumni balik ke ruang tengah mengajak Rusi berkumpul dengan Rini adiknya. Ole_ Ole yang dibawa lalu di buka. Rini terlihat senang. Mereka bertiga melarut dalam senda gurau dengan kepolosan Rini. Lalu mereka masuk kembali ke kamar, dimana Bapak Arumni terbaring. Di dalam kamar Arumni memberikan juga ole_ole buat Bapak dan Ibu Arumni. Kedua orangtuanya tersenyum. Suasana yang semula sedih kini kembali ceria. Hari ini Arumni berasa bahagia karena kerinduannya sudah terobati bisa berkumpul dengan keluarga yang sangat disayanginya.
------------ TAMAT --------------
Tantangan menulis hari Ke_30
Gurusianer menulis hari Ke_260
Cerpen judul Ke_08
MGI
Salam literasi, 18 April 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan