Luruh dalam Dekapan Sunyi
Luruh dalam Dekapan Sunyi
Oleh. Alina Said, S.Pd
Ketika rinai hujan perlahan menderas kian mereda
Menghujani dedaunan luruh
dan jatuh ke bumi
Bahkan genangannya pun membaluri tanah
Membuai semesta dalam dekapan malam
//
Tetapi...
Mengapa pilu selaksa masih meraja?
Sementara sudah hanyut bersama rinainya hujan
Seketika, perlahan bening pun membelai muka
//
Mungkinkah ragu masih merasa
Tatkala hadirmu bagaikan gulitanya malam
Yang dibiarkan merindu dalam lelap
Dekapannya malam
Yang masa ini lagi berputih tulang rasa
//
Seketika rembulan di langit kian menepi
Netranya bacar hati memandang
Dan gemintang pun enggan tersenyum
Semisal rasa masih tersisa di kalbu
Akan dijemput hal itu
Agar indahnya berasa kembali
//
Namun,
Itu pun telah berlalu
Kembali luruh dalam dekapan sunyi
Yang tiada lagi membuncahnya air netra.
----------------------------------------
Tantangan menulis hari Ke_47
Gurusianer menulis hari Ke_ 268
#Puisi Ke_107
MGI
Salam literasi. **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan