Gelora Cinta Nalia di Bulan Agustus (1 )
Sebentar lagi sorak_sorai merdeka akan menggema di seluruh daerah persada Nusantara. Nalia jadi ingat dengan almarhum Bapaknya, ketika itu masih duduk di bangku Pendidikan Sekolah Dasar. Awal bulan menjelang tujuh belasan, Bapaknya sibuk untuk mencari sebatang bambu dengan membawa sebuah parang ke belakang rumah, guna menegakkan bendera sang merah putih dengan bambu sebagai simbol tiang bendera kearifan untuk dipasang depan rumah. Karena memang ada di belakang rumah serumpun bambu yang setengah tua di dekat sana. Melihat Bapaknya arah ke sana. Nalia pun bertanya.
“ Pak, mau kemana, kok Bapak bawa parang?’’ Tegur Nalia. Bapak Nalia dengan santai menjawab seraya melenggang-lenggokkan tangan yang lagi memeggang parang menuju arah ke belakang.
“ Bapak mau mengambil bambu Nak, untuk bendera kita sebentar lagi kan mau tujuh belasan, apa Nalia nggak ingat?’’ Jawab Bapak Nalia datar.
“ Oh ya Pak, Ingat Pak’’ Tukas Nalia sambil membalikkan badannya dan masuk ke dalam rumah.
*
Selang berapa jam kemudian, Bapak Nalia sudah berada di depan rumah sambil memapah sebatang bambu yang agak sudah setengah tua. Bapak Nalia pun menaruhnya di lantai depan rumah. Tetiba, Nalia sudah berada juga di sana dan langsung memeggang bambu tersebut.
“ Jangan Nak, nanti dulu!’’ Ujar sang Bapak. Nalia hanya diam menatap apa yang dikerjakan Bapaknya. Namun reaksi Nalia berubah , seraya berdiri Nalia memutar badan dan bicara pada sang Bapak.
“ Kalau begitu, biar Nalia ambil benderanya ya, Pak” Ujar Nalia. Sekarang Bapak Nalia giliran diam. Nalia diam juga. Kemudian tanpa aba-aba dari Bapaknya, Nalia lari ke dalam rumah berusaha membongkar lemari yang sudah mulai tua untuk mencari bendera merah putih yang ada di dalam lemari. Melihat lagu Nalia begitu sang Bapak hanya mengerti saja, bahwa Ia tahu anaknya yang satu ini suka bekerja.
*
Berapa menit kemudian Nalia muncul lagi sambil membawa bendera yang sudah mulai agak memudar warnanya mungkin sudah dimakan waktu. Kemudian Nalia sodorkan kepada sang Bapak.
“ Pak, ini benderanya biarkan Nalia yang mengikatnya,’’ Saking bersemangatnya Nalia.
“ Jangan Nakkk...nanti dulu, bambunya dibersihkan dulu dibuang ruas-ruas sekatnya, lalu dijemur , setelah itu di cat dengan cat kapur. Baru setelah itu bisa dipasang jadi bendera!’’ Teriak sang Bapak sembari mengangkat tangan menahan agar jangan Nalia menyentuh bambu tersebut. Sepertinya sang Bapak takut anaknya kena miang di ruas - ruas daun kelopak batang pohon bambu tersebut. Nalia jadi tercenung mendengar penjelasan Bapaknya.
‘ Oh, begitu ya Pak. Nalia kira langsung dipasang’’ Ungkap Nalia. Sekejap matanya menoleh ke rumah tetangga, terus beralih bertanya pada Bapaknya.
“ Pak, rumah Peto juga pasang bendera itu Pak, seluruh kita wajib pasang bendera ya, Pak pada bulan Agustus ini?’ Tanya Nalia.
“ Ya , Nak sebagai warga negara kita wajib mengibarkan bendera merah putih di depan rumah tandanya rasa cinta kita terhadap tanah air , itu sudah tercantum dalam UUD 1945 pasal 29. Nalia kian terpelongo mendengar ulasan Bapaknya. Mulutnya seolah_olah membentuk bulatan huruf O dan berusaha menyeka keringat di keningnya.,
Lalu .......
“ Naliaaaaaa’’ Nalia kaget.
Sebuah teriakan dari dalam rumah memanggil namanya. Ia lupa bahwa jatahnya untuk mencuci piring guna membantu Ibunya menjelang makan malam bersama keluarga masih belum dikerjakan.
_____________________________
Tagur _ 45
Tantangan menulis hari Ke_ 136
Gurusianer menulis hari Ke_ 344
Salam literasi, **(censored)**
Gurusianer
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan