Gelora Cinta Nalia di Bulan Agustus (3)
Nalia menunduk dan tidak mau menatap raut wajah Ibunya yang mulai memerah. Mungkinkah Ibu marah karena aku terlalu nyinyir tidak mau mendengarkan kata _ kata Ibu. Ada pikiran yang berkecamuk di benak Nalia. Adiknya yang berumur 10 tahun tiba_ tiba saja menyela pembicaraan mereka berdua
" Bu, bendera kita mana Bu, bendera Pito sudah berdiri Bu, bendera kita kok belum Bu? " Kata Rino pada Ibunya sambil menggoyang_ goyangkan bahu sang Ibu mereka.
" Ia, nanti kita pasang kita tunggu Paman datang dulu ya, " Ujar sang Ibu.
" Tapi, kapan Paman ke sini Bu, rumah kita kurang semarak bentuknya tanpa ada bendera," Sambung Nalia. Kali ini Nalia ingin ketegasan Ibunya. Nalia berharap sekali Ibunya mau mengizinkan mancari bambu dengan temannya jika dilihat dari roman mukanya. Nalia jadi ragu dengan jawaban_jawaban Ibunya yang selalu berharap pada Pamannya yang belum pasti datang.
" Ia, tunggu saja paman datang," Ungkap sang Ibu. Kemudian menarik lengan Rino mengajak tidur ke kamar.
" Ah, Ibu, " Keluh Nalia. Lalu berlalu juga dari tempat yang mereka dudukkan semula.
***
Malam semakin larut, mata Nalia belum mau terpejam. Di luar gonggongan suara anjing sayup_sayup mulai terdengar. Dibarengi dengan suara jangkrik yang berlagu dendang merana. Ada terbesit rasa takut menghantui sukma Nalia. Tepat pukul 11.30 malam tiba_tiba pintu rumah diketuk. Nalia hafal dengan suara yang memanggil itu. Yach, itu adalah suara Paman, bisik hatinya. Ia pun bangun dari pembaringannya. Melangkah perlahan menuju ke kamar sang Ibu. Nalia musti bangunkan Ibu. Tidak mau membuka pintu duluan. Nalia tidak berani buka sendiri keyakinannya akan Pamannya sirna karena berhubung dalam suasana malam.
" Bu.. Bu... di luar ada yang mengetuk_ ngetuk pintu Bu!" Bisik Nalia pelan di depan pintu kamar yang tertutup dengan rapat
" Siapa? "Jawab sang Ibu. Ada jawaban rupanya dari Ibunya yang ternyata belum juga tidur. Ibu Nalia pun bangun.
" Nggak tahu Bu, Nalia nggak berani buka, " Jawab Nalia pelan. Pintu kamar Ibu Nalia pun terkuak. Sementara itu Nalia mendekati lemari. Di sana ada sebuah balok kayu sepanjang 1 meter. Lantas Nalia ambil dan masang ancang_ ancang berdiri di balik pintu. Ibu Nalia manggut_manggut melihat perangai anaknya. Saat pintu dibuka.. ternyata memang benar Pamannya yang datang. Nalia akhirnya tarik nafas dalam _ dalam.
***
Ada kelegaan di hati Nalia saat Pamannya datang. Sekurangnya bisa terjawab pertanyaannya untuk secepatnya bendera di depan rumahnya berdiri. Semangatnya menggebu_gebu agar segera mungkin Ibunya bertanya tentang bambu itu, siapa yang akan mencarinya.
" Belum tidur Ni? " Tanya sang Paman.
" Belum, kami menunggumu Toni, Nalia ingin agar di depan rumah bendera di pasang karena mau tujuh belasan. Kata Nalia biar dia yang cari bersama temannya sesama perempuan. Tapi Uni larang, " Ungkap sang Ibu pada Paman Nalia. Seraya kedua beradik_kakak itu duduk di bangku tamu.
" Oh, jangan...tidak boleh Nalia, karena itu adalah pekerjaan laki_ laki. Di rumpun bambu biasanya banyak binatang seperti ular. Jadi biar Paman yang ambil besok. Mendengar ungkapan Pamannya Nalia tarik nafas dan palung sukmanya sangat senang. Nalia khawatir jangan_ jangan depan rumah tidak jadi pasang bendera.
" Bagaimana Nalia, Nalia dengar bukan kata Paman " Sambung sang Ibu.
" Ya, Bu Alhamdulillah, asyik... Besok depan rumah pasang bendera, " Girang Nalia sembari masuk kembali ke kamar.
---------------------------------------
Tagur_ 48
Tantangan menulis hari Ke_ 140
Gurusianer menulis hati Ke_ 348
#Cernak Ke_07
Salam literasi digital, 10_ 08_2021
Gurusianer.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan