Alina Said, S.Pd.

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Gelora Cinta Nalia di Bulan Agustus (4 )

Pukul 04.00 WIB dini hari, Nalia terbangun dari tidurnya. Sontak kuping Nalia mendengar jam dinding di ruang tengah berdetak sebanyak empat kali. Nalia mendesah, baru pukul empat. Ia ragu untuk bangun dari pembaringan. Lagi pula suara azan belum menggema. Nalia membaringkan tubuhnya kembali. Seperempat jam kemudian Nalia mendengar ada suara tapak sandal melangkah. Yach, Itu pasti Ibu. Ibu Nalia juga sudah bangun. Nalia pun bergegas membuka pintu kamar. Lalu menegur sang Ibu.

" Bu, Ibu juga sudah bangun ya? " Tegur Nalia.

" Ia Nak, Nalia kok cepat sekali bangun?" Sambung sang Ibu.

" Nggak apa_ apa Bu, sebentar lagi suara azan, Oh ya Bu kira _kira Paman datangnya jam berapa ya Bu, besok ? " Tanya Nalia masih dengan penasaran.

" Ibu juga nggak tahu, kita tunggu saja Pamanmu datang, kemarin juga Pamanmu janji akan bawakan bambunya, Nak, "

" Baiklah Bu, " Jawab Nalia lirih.

****

Suasana Subuh merangkak pagi. Sama seperti sinar matahari yang selalu datang setiap pagi. Menyiratkan kegembiraan dan harapan baru. Begitulah yang dirasakan oleh Nalia. Setelah salat subuh Nalia melangkah menuju ke belakang, membersihkan piring dan gelas yang dipakai semalam. Sambil mencuci piring, Nalia bersenandung kecil menyanyikan lagu "Hari Merdeka". Namun.. Tiba_tiba.

" Naliaa !" Teriak Ibunya dari kamar depan.

" Ya, Bu ada apa? " Jawab Nalia tergopoh_ gopoh lari_lari kecil mendekati suara sang Ibu.

" Nalia, Ibu minta tolong ke pasar nanti mau Nak?" Tanya sang Ibu.

" Mau Bu, tapi Nalia belajar online pagi ini pukul 09.00 Bu, memang Nalia ke pasar untuk apa Bu? " Jawab Nalia polos.

" Beli gula, nanti kalau Pamanmu datang bikin minuman untuk Paman, " Tukas sang Ibu.

" Kalau begitu, Nalia beli sekarang saja Bu sebelum belajar daring dimulai. Nalia beli di kedai Pak Madin yang dekat pasar, sekarang ini tidak boleh ke tempat yang ramai Bu, karena corona belum sirna " Cakap Nalia dengan bijak. Lalu Ibu Nalia mengeluarkan satu lembar uang 50.000 an. Nalia ambil uang tersebut dari tangan Ibu tercinta, masuk ke dalam kamar mengambil masker yang tergantung di dinding karena belum dipakai.

****

Nalia keluar dari rumah netranya tertegun memandang mentari bak tersenyum ria menyambut pagi pada Nalia. Baru perjalanannya menempuh 100 meter dari rumah. Nalia jadi terpelongo karena di depan rumah_rumah sudah berjejer bendera merah putih. Gelora cinta Nalia di bulan Agustus kembali meradang. Hatinya berdegup riang. Wow, kerennya ucap Nalia dalam hati. Benderanya ada yang tinggi, ada juga yang rendah terpajang. Kainnya melambai_ lambai ditiup oleh sang bayu. Asyik sekali Nalia menatapnya. Tiba_tiba ada klakson motor berbunyi..

" Titt... titt.. " Nalia terperajat rupanya posisi berdiri Nalia sudah di tengah badan jalan.

" Nak, Oi Nak ...Kalau berjalan ditepi ya, " Teriak seorang Bapak yang mengendarai motor tersebut. Sepertinya marah, namun Bapak tersebut bisa mengendalikan emosinya bahkan Nalia juga sudah melewati kedainya Pak Madin dan akhirnya Nalia terpaksa berbalik kembali.

--------------------------------------------

Tagur_51

Tantangan menulis hari Ke_143

Gurusianer menulis hari Ke_ 351

#Cernak_07

Salam literasi digital_13_Agustus_2021

Gurusianer

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post