Gelora Cinta Nalia di Bulan Agustus (6)
Denting waktu pun berlalu. Tatkala sampai di dekat sang Paman, Nalia pun memberikan parang tersebut pada sang Paman. Melihat hal itu Paman Nalia mengerinyitkan jidatnya. Tapi, reaksi Nalia langsung berubah saat sang Paman mau berkata.
" Aduh Paman, Nalia salah ambil ,"' Cakap Nalia sembari membalikkan tubuhnya. Namun Paman menahan tindakan Nalia untuk berbalik.
" Nggak usah Nalia, biarlah parang saja, dengan parang ikatannya bisa juga kita potong," Ujar sang Paman. Lalu sang Paman membuka arlojinya agar mudah untuk bekerja. Meminta pada Nalia untuk menaruhnya di dalam rumah. Arloji diambil Nalia dari tangan sang Paman. Sejenak mata Nalia terkesima pada putaran jarum jam di arloji, ternyata sudah menunjukkan pukul delapan lima puluh menit. Berarti waktu Nalia untuk berbenah menjelang belajar daring tersisa sepuluh menit. Nalia musti siap_ siap untuk balik kembali ke dalam rumah.
".Paman, lanjutkan saja buatkan benderanya ya, Paman. Nalia belajar dulu," Ungkap Nalia serius.
"Yach, tenang saja Nalia selesai Nalia belajar bendera kita sudah siap," Jawab sang Paman.
Setelah itu, tiba_tiba Ibu Nalia berteriak memanggil Nalia dari dalam.
" Naliaaaa, ini minuman kopi Pamanmu, tolong diberikan pada Paman.!" Perintah sang Ibu tercinta.
" Ya Bu, Ibu saja yang antar kopinya ya, soalnya Nalia belajar daring dulu!" teriak Nalia pada sang Ibu. Nalia langsung masuk kamar, menyiapkan dirinya untuk belajar daring.
*****
Mendengar suara teriakan tersebut. Rino adik Nalia yang sedang tidur jadi terbangun dan keluar dari kamar.
" Ibuu... kok berteriak_teriak begitu?" Rintihnya seraya menghampiri sang Ibu yang berada di luar. Sesampainya Rino di luar. Rino melihat Pamannya sedang bekerja , Ia pun senang. dan jongkok di depan sang Paman sedang bekerja.
" Bendera kita mau dipasang ya, Paman? " Tanya Rino.
" Ya Rino, duduk di sana yang baik ya?" Perintah Paman kepada Rino. Paman Nalia orangnya jeli. Ia tahu Rino saat ini, rasa ingin tahu akan sesuatu sangat tinggi. Daripada nanti Rino cidera pergi ke sana_ ke mari lebih baik di suruh saja duduk. Rino terpaksa diingatkan sang Paman Toni secepatnya.
Sekarang, Paman Toni sudah nyaman untuk melanjutkan pekerjaan.
*****
Pagi mulai merayap petang. Sang raja siang perlahan_lahan ditutup oleh awan kelabu. Pertanda panas yang menyinsing sudah bersulih temperaturnya jadi meredup. Toni sudah kelelahan dan akhirnya terduduk santai. Seraya meminum kopi buatan Ibu Nalia. Sekali_ kali menyulut rokok. Batang bambu yang dipenuhi sekat_sekat miang. Sekarang sudah dibersihkan oleh Toni. Nalia pun sudah usai belajar. Posisi Nalia sudah berdiri di dekat sang Paman . sedangkan Rino sudah tidur kembali di kamar. Saatnya kini Nalia bertanya pada sang Paman.
" Paman, apakah sudah makan? " Tanya Nalia.
" Sudah, tadi Ibu Nalia ambilkan dan dibawa ke sini" Jawab Paman datar.
" Sekarang bambunya, tinggal di cat kapur lagi ya, Paman?" Tanya Nalia kembali.
" Nggak usah, " Jawab Pamannya ketus
" Loh, kok nggak Paman, kalau Bapak dulu dikasih cat kapur benderanya?" Nalia berusaha menangkis pembicaraan sang Paman.
" Itu dulu Nalia, bila kita ada waktu dan Bapakmu memang rajin orangnya, bahkan pagar untuk taman diberi kapur," Jawab sang Paman Nalia. Kini mulai bercerita tentang Bapak Nalia yang sudah tiada.
" Biar Nalia yang kasih Paman," Jawab Nalia.
" Nggak usah!" Jawab sang Paman. Namun, tiba_tiba ....
" Dicat saja langsung Toni, ini cat kapurnya ada disimpan, inj sisa dari memperbaiki dapur dulu.
" Oke Uni, kalau memang begitu," Tukas Paman Toni. Maka sang Paman catlah bendera tersebut. Setelah selesai lalu bendera ditegakkan oleh sang Paman sama Nalia.
--------------------------------------------
Tagur_ 54
Tantangan guru menulis hari _ 146
Gurusianer menulis hari _ 354
#Cernak Ke _07
Salam literasi digital, 16 Agustus 2021
Gurusianer
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan