Udin Bertemu Teman Wanita
Dalam suasana hening, kedua Ibu dan anak tersebut terperajat mendengar bunyi jam yang terpajang di dinding. Jam itu berdenting sebanyak sebelas kali. Udin melirik arah jarum jam di dinding tersebut. Sesaat angannya terhenti dan tak mau lagi mengajak Maknya bicara. Udin berupaya memerangi gundah hati yang berkecamuk di dada dengan kembali menoleh pada Mak sembari berkata .
“ Mak.. Sudahlah...Mak tidur lagi ya, Udin salat Isha dulu,’’ gumam Udin . Seraya berdiri dan melangkah menuju ke belakang. Di mana ada kamar mandi dengan kolah yang sudah dicor permenen. Kolah tersebut warna catnya sudah memudar. Beberapa menit kemudian Mak Udin juga berdiri dan masuk ke kamarnya. Lalu kamar dikunci oleh Mak Udin dari dalam. Namun orangtua berusia kira-kira 68 tahun ini, memory ingatannya masih terlihat sehat. Ia tak lupa mengingatkan Udin agar mengunci pintu jika kembali dari dapur.
***
Dingin suhu malam serasa merasuk ke pori-pori kulit Udin. Ketika air yang ditimba, Udin jadi menggigil. Air tersebut bersumber dari hasil tampuangan tetesan air hujan yang jatuh dari atap rumah. Sebab untuk air kran belum bisa sampai ke rumah Udin yang jauh dari keramaian. Setelah salat Udin berbaring di kamarnya. Berapa detik kemudian duduk lagi di tepi pembaringan. Lewat celah jendela Udin melirik sekejab keluar. Hati Udin berkata-kata bila malam dingin akan terasa menjadi nyaman, ketika rembulan memancarkan senyumnya. Dari kejauhan lampu-lampu di keramaian, terlihat berkelip indah dan menawan, membuat terasa damai dan tentram dalam sukma. Udin merebahkan diri, berusaha memejam netranya agar esok angannya bisa tercapai.
***
Esok hari, setelah salat subuh agak siangan. Udin keluar mengenakan sepatu berencana maraton pagi. Udin lari-lari kecil di sekitar kampungnya. Keinginan Udin untuk pergi merantau sesaat tidak terpikirkan oleh Udin. Kala asyik maraton, Udin bertemu dengan sosok wanita yang berlawanan arah. Wanita itu raut wajahnya sayu dan berbadan sedang. Udin terkesima manatapnya, sehingga kaki Udin jadi tersandung batu.
“ Gubraakk!’’ Udin jadi tersungkur ke depan tanpa disengaja. Wanita itu terkesiap dan melontarkan kata_kata pada Udin.
“ Hei, bagaimana Uda... hati-hati jalannya lihat ke depan ya,’’ ucap wanita tersebut sembari tersenyum pada Udin. Udin dadanya berdegap-degap. Di benaknya terlintas pikiran mungkinkah ini jodohku....
( Bersambung )
---------------------------------------------------
Tagur_ 98
Tantangan menulis hari Ke_ 189
Gurusianer menulis hari Ke_ 398
#Cerpen Ke_ 09 di MGI
Salam literasi_ 29 September 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan