Alina Said, S.Pd.

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Udin Bertemu Teman Wanita

Udin berusaha bangkit dari ketersungkurannya. Sambil memegang lutut kakinya yang terasa kaku dan perih. Netranya memandang tajam sosok wanita yang telah membuat hatinya berbunga-bunga. Ketika Udin sudah berdiri stabil, Udin pun melanjutkan lari – lari kecil dan berputar di bengkolan pada jalan setapak yang tidak dilalui kenderaan roda empat tapi sudah dicor. Sehingga, kini posisi Udin sudah menjadi searah dengan sosok wanita dalam bayangannya. Namun sayang, tetiba di persimpangan, wanita tersebut larinya membelok arah ke kiri yang diikuti oleh temannya masih kecil dari arah belakang. Sedangkan Udin arah ke kanan. Udin kecewa karena belum sempat bertanya siapa nama wanita itu.

***

Perjalanan waktu tak pernah disadari menusia. Siang beranjak menyapa sore dengan jingga penuh makna. Dari anak-anak, remaja hingga dewasa. Usia terus bertambah. Seiring pergantiaan masa yang terus berjalan. Semua pasti akan berubah seperti apa yang dialami Udin saat ini. Usai mandi sore kebiasaan Udin bersih-bersih, termasuk mengurusi dirinya. Mak Udin juga demikian. Terlintas dipikiran Udin untuk bercakap-cakap lagi dengan Maknya. Tetapi ada rasa resah mengulana. Mak Udin sibuk mondar-mandir membereskan kotoran rumah yang dilengketi debu. Rasa untuk menyapa Mak, untuk mengulangi keinginannya jadi surut. Hingga akhirnya, Udin menjauhkan diri dari kesibukkan Maknya, yang sudah di bibir senja itu.

***

Malam tak pernah gagal membunuh jiwa yang sunyi. Membelai diri-diri dari lamunan kehidupan. Tiada awan di langit yang terlihat. Gelapnya bumi disinari bulan yang berbinar ria. Setelah makan malam, Udin menyetel radio kesayangan peninggalan orangtuanya yang laki-laki, untuk meredam arus sunyi. Seketika itu Maknya datang dengan senyum yang tak sempurna dibaluti keriput karena ketuaan lalu bertanya pada Udin.

“ Udin, sudah salat?’’ tanya Mak pada Udin, sambil duduk berhadapan depan Udin.

‘’ Sudah.. Mak, ” jawab Udin. Terpantul di mimik muka Udin senang Maknya menghampiri. Begitu Maknya duduk. Kesempatan bagi Udin untuk menuangkan hasratnya yang tertangguhkan tadi.

“ Mak... Udin nggak jadi deh Mak, merantau,’’ tegas Udin menyibak pembicaraan mereka berdua.

“ Kenapa nggak jadi, Udin ?’’ tanya Mak Udin kembali bertanya. Udin agak berat menjawab . Ia teringat dengan pertemuannya pada wanita pagi tadi. Ia takut, Maknya banyak mikir.

‘’ Begini Makk... Mak jangan marah ya...Udin bertemu seorang wanita pagi tadi, Mak” kata Udin sambil tersenyum-senyum pada Maknya. Seketika raut muka Mak berubah kerutannya pada sudut bibir. Matanya melotot ..

“ Apaa... bertemu wanita, siapa wanitanya Din?’’ suara Mak agak meninggi. Udin kaget.

( Bersambung )

---------------------------------------------------------

Tagur_ 99

Tantangan menulis hari Ke_ 190

Gurusianer menulis hari Ke_ 399

#Cerpen Ke_ 09 di MGI

Salam literasi_ 30 September 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post