Alina Said, S.Pd.

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Jodoh yang tak Diduga

Esok hari , ketika sang surya mencuatkan cahayanya. Terlihat penampilan Udin sudah terpancar trendy dengan kemeja putih celana bercorak gelap. Sehingga membalut tubuh tegapnya yang semakin menambah ketampanan. Pemuda pantai berdarah rumah bergonjong ini. Benar kata orang, batu akik bila diasah akan menimbulkan pesona sendiri. Depan cermin Udin melirik rupanya dengan tersenyum menggoda diri. Sekejap dirinya tercenung. Kemudian merapikan dasi yang dikenakan. Kekakuan menyeruak kala jemarinya tidak lihai mengatur dasi. Tetiba memorinya galau dengan tanda tanya mengenai mengapa jodohnya belum ada. Padahal usianya sudah melewati batas kewajaran untuk bisa berumah tangga. Berlama di depan cermin akan membuat diri Udin kian terlena. Lantas Ia keluar dari kontrakannya menaiki motor melaju dengan kecepatan sedang.

***

Perjalanan waktu Udin menuju kantor tidak begitu lama, karena kontrakan Udin dekat dengan kantornya. Sesampai di parkiran sebuah sedan hitam meluncur tenang berbarengan dengan kenderaan yang dikendarai Udin memasuki area parkiran. Siapa yang mengemudikan kalau bukan Si Bos. Pintu mobil lalu terbuka, Si Bos keluar merunduk karena disebabkan badannya yang besar dan tinggi. Seketika Udin juga turun dari motornya berusaha untuk mendekati Si Bos. Dia pun lalu menyapa Si Bos.

“ Selamat Pagi, Pak,” sapa Udin seraya menjulurkan tangan untuk basa-basi membantu membawakan tas yang dikeluarkan lelaki setengah tua itu dari mobil.

“ Pagi Din...,’’ Jawabnya juga, sambil tersenyum renyah. Belum sempat Udin bertanya yang kedua. Si Bos melontarkan kembali pertanyaannya.

“ Bagaimana Din, motor yang kamu bawa mesinnya, tidak apa-apa bukan?” tanya Si Bos. Udin menjawab dengan penuh hormat.

“ Alhamdullilah Pak... Baik, tidak ada masalah dengan motornya,’’ ungkap Udin. Si Bos memberi reaksi dengan anggukan. Lalu mereka berdua melangkah masuk kantor. Ketika sampai di pintu. Tetiba gawai dalam tas Si Bos berbunyi. Si Bos mengambilnya dan membaca nama yang tertulis di layar monitor , Elda. Si Bos merasa bingung, Elda ada apa ya kok tumben menelpon. Monolog Si Bos. Sehingga bias romannya membuat Udin jadi bertanya.

“ Siapa yang menelpon Pak, kenapa Bapak bingung?” Udin mencurahkan perhatian tulus dan tak mau Si Bos dapat masalah. Si Bos tidak memberitahu Udin, bahwa yang menghubunginya adalah Elda. Ia hanya diam dan langsung memasukkan gawainya kembali ke dalam tas. Udin mendesak Si Bos. Tampak raut muka Udin merah merona. Si Bos tahu akan hal itu. Agar Udin tidak penasaran, Si Bos hanya menjawab bahwa yang menelpon adalah salah alamat.

***

Setibanya di ruangan kerja, para pegawai menyonsong Si Bos dengan senyuman dan sapaan selamat pagi. Wajah mereka kelihatan ceria, tiada gemuruh suara. Mereka giat dengan perannya masing-masing. Demikian juga Udin. Berhubung karena ditempatkan pada bagian operator, Udin musti ruangannya berdekatan dengan Si Bos. Terkadang sesekali ke meja Si Bos bertanya. Tatkala asyik bergiat , mendadak gawai Si Bos kembali bersuara. Udin tersentak dan melirik Si Bos. Namun tidak begitu lama. Karena segan, Ia kembali mengarahkan pikirannya pada lebaran kerja yang tergenggam di jemarinya. Tapi, Udin sempat mendengar sayup-sayup sampai bahwa ada yang akan datang untuk menemui Si Bos. Seperempat jam kemudian, salah seorang pegawai masuk ke ruangan Si Bos dengan mengatakan, bahwa ada seorang wanita yang ingin mencari Si Bos. Si Bos mengizinkan untuk masuk. Lalu pintu dari luar pun diketuk.

“ Ya, silakan masuk,’’ cakap Bos dengan sopan. Elda tersenyum ramah, sembari duduk karena sudah dipersilakan. Bersamaan dengan itu, kebetulan Udin juga ingin bertanya. Tetapi setelah itu langkahnya jadi terhenti, ketika tiba di bibir pintu. Darahnya mengalir deras, setelah melihat wanita yang datang itu adalah Elda. Buru-buru Udin menuju ke mejanya, tapi dilarang oleh Si Bos. Elda terkesima dengan sikap Udin yang ramah . Si Bos kian jadi bergelora akan mempertemukan Udin dengan Elda.

“ Ayo, Din.. masuk, kenalkan ini Elda. Elda menatap Udin. Ekspresinya tertentang dengan tingkah Udin, yang terpandang sopan. Sehingga Udin jadi risi olehnya.

‘’ Nggak usah Pak, terus saja lanjutkan percakapannya!’’ ucap Udin menegaskan. Tetapi Si Bos tetap bersikukuh, ingin menjodohkan Udin dengan Elda. Tapi Udin rupanya tahu dengan gelagatnya Si Bos. Udin tolak mentah-mentah, meskipun nalurinya suka juga dengan Elda. Udin tolak, karena takut kecewa lagi.

“ Ayo Din..sini, kenalkan ini Elda!’’ cakap Si Bos dengan yakin, menyangka bahwa tujuannya ingin menyatukan Udin akan berhasil.

( Bersambung)

---------------------------------------

Tagur_ 128

Tantangan menulis hari ke_219

Gurusianer menulis hari ke_428

Jumat, 29 Oktober 2021

#Cerpen ke _11 di MGI

Salam literasi digital

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post