Alina Said, S.Pd.

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Jodoh yang Tertunda

Dengan rasa yang girang dan ditemani sang rembulan yang tersipu malu. Kelamnya malam tidak membuat lelah hati Udin melajukan motor yang dikendarai. Perasaan yang tidak terhitung senangnya. Si Bos bermurah hati meminjamkan motor. Sehingga Udin merasa tidak repot lagi menunggu oplet untuk berangkat ke kantor besok pagi. Bak pucuk dicinta ulam tiba begitu pribahasa mengungkapkannya, Udin beruntung sekali punya Si Bos yang baik hati.

Rembulan bergulung dalam selimut mega kelam, embun malam singgah dan tertidur di pori-pori kulit Udin. Dua menit ke depan , Udin akan sampai di tempat tinggalnya. Namun sebelumnya mampir dulu untuk membeli sebungkus nasi buat makan malam yang tiada sempat dimasak di kontrakan. Sekarang ini Udin terpaksa berusaha mencari buat pengganjal perut sendiri. Semenjak sudah tidak lagi serumah bersama kakaknya Mawar. Sebab Udin tidak ingin merepotkan Mawar.

***

Sesampai di tempat tinggal yang berlantai tiga itu, terlihat cahaya lampu yang sudah mulai meredup berusaha menerangi ke sekeliling kamar yang berleter U itu. Ada tiga orang penghuni kontrakan, lagi duduk santai menikmati indahnya malam yang diterangi sang rembulan. Seraya menjuntaikan kaki mereka asyik dengan gawainya di depan pintu. Sementara penghuni yang lain dalam kamar berjibaku dengan buku. Mereka itu adalah Mahasiswa. Mereka yang sedang berada di luar sempat melirik Udin karena tak biasanya mengendarai motor pulang. Hal itu hanya sekejap. Mereka kembali sibuk dengan aktivitasnya.

***

Tatkala membuka pintu kamar, Udin berpapasan dengan teman kamar sebelah. Deni namanya. Ia pun menyapa Udin.

“ Wah... Din, baru ya motornya... CBR150R lagi, keren amat Din?’’ Gurau Deni.

Udin hanya tersenyum sumringah. Sambil menguakkan pintu kamar. Lalu menjawab sapaan Deni.

“ Nggak juga Den, ini miliknya Si Bos dipinjamkan Den,’’ tukas Udin menyakinkan Deni.

‘’ Ia, tapi sama lu barukan? ’’ celoteh Deni sambil duduk memantik macis untuk menyulut rokok yang sudah ada di tangannya.

“ Hmmm... benar juga ya, Den,” Udin tertawa dan juga Deni dengan penuh keakraban. Lantas masuk membuka kaos kaki dan rebahan sekejap. Kemudian bangun melangkah ke kamar mandi, untuk bersihkan badan serta ambil air wudhu untuk salat. Selanjutnya ke ruang tamu yang bersekat untuk menyantap nasi bungkus yang sudah dibeli.

______( Bersambung _____

Tagur_ 123

Tantangan menulis hari ke_214

Gurusianer menulis hari ke_423

Minggu, 24 Oktober 2021

#Cerpen Ke_10 di MGI

Salam literasi digital

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post