Alina Said, S.Pd.

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Malam Pertama Udin Kembali di Rantau

Udin tertidur pulas di atas lajunya bus yang ditompangi. Senandung musik yang diputar sopir mendayu_dayu. Membuai lelap para penompang yang terlena tidur, seketika Kenek bus pun bersorak.....

“ Rantau...Rantau...Daerah Rantau, ada yang turun di sini Mak, Pak, Uni Ajo!’’ Sorakkan Kenek bus penuh semangat meski lelah menghujam raga. Penompang bus yang terlelap tidur jadi terjaga. Terlebih Udin suaranya semarakan bus.

“ Yaa...Rantau Bang,’’ jawab Udin dengan keras. Kenek menatap ke arah Udin. Lalu membalas jawaban Udin.

“ Si Abang, turun di mana?’’ tegas Kenek balik bertanya.

‘’ Di kotanya, Bang!’’ jawab Udin.

“ Oh, ini baru Rantau berangin Bang!’’ Kenek memberitahu Udin yang berusaha untuk berdiri sembari menenteng kopernya. Mendengar jawaban Kenek. Udin kembali duduk.

***

Sesampai di kota, Udin turun dan juga beberapa orang Mahasiswi. Mereka kebetulan sama dari kampung. Turun dari mobil, Udin ternganga. Sepertinya banyak yang berubah dengan kota betuah ini, pikirnya. Di pinggir jalan, yang dulunya masih berupa kedai warung sekarang sudah di bangun ruko-ruko. Udin berjalan gontai dalam keramaian. Banyak mata yang memperhatikan. Para penjual dagangan mengelu-elukan dagangannya mengajak Udin mendekat. Wajah kota mulai membaur dalam rasa Udin. Niat Udin, mengayunkan langkah ke tempat kontrakannya dulu. Tapi, keramaian kota besar mengubah niatnya untuk ke rumah kakaknya yang paling tertua untuk menginap semalam.

***

Di tengah gerimis sore yang menetes. Layung senja telah mencuatkan sinar indahnya. Akan tetapi masih saja di tengah keramaian Udin terasa sepi meskipun dikerumuni banyak orang. Saat mata senja berlinang jingga Udin berasa mengenang luka, seperti pergi yang lupa jalan pulangnya. Ada terbesit raut Riana di pelupuk netranya. Udin menepis bayangan Riana dan akan mencoba melupakan sosok yang tak terukir di sukma. Buat apa diingat kenal pun tidak. Lebih baik memikirkan diri sendiri dulu. Untuk mendapatkan pekerjaan, soal cinta nanti dipikirkan pinta Udin dalam hati. Setelah bercengkerama dengan kakak dan makan malam. Udin menyusup ke bilik yang disediakan kakaknya. Tercenung sendiri, menatap esok pagi. Kemampuan bisa mengoperasikan komputer, itulah senjatanya buat melamar pekerjaan.

***

Mentari mulai terbangun dari peraduannya , memancarkan sinarnya yang menghapus titik-titik embun di dedaunan, menghangatkan tubuh dari udara dingin. Membakar semangat baru di hari yang baru. Ketika bangun, Udin berbenah diri dengan mengenakan pakaian hitam putih, dengan sepatu yang terbuat dari kulit. Pagi ini Udin tampak sangat elegan. Udin akan melamar pekerjaan dimanapun. Doakan Udin Mak... semoga berhasil, ungkap hati Udin, saat bercermin tatkala mau melangkah merajut cita.

(Bersambung efisode terakhir )

---------------------------------------------------

Tagur_ 104

Tantangan menulis hari Ke_ 195

Gurusianer menulis hari Ke_ 404

#Cerpen Ke_ 09 di MGI

Salam literasi_ 05 Oktober 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post