Metode Foxfire melalui Model Pembelajaran Berbasis Proyek
Dalam pembelajaran kurikulum 13 kita mengenal berbagai model pembelajaran, seperti model pembelajaran Saintifik, Discovery learning, Inquiry learning, Comperatif learning, Problem Based Learning dan Berbasis Proyek. Model-model ini digunakan oleh pendidik sebagai strategi untuk mentransformasikan kompetensi dasar agar tercapainya tujuan dari pembelajaran sesuai dengan program per-jenjang pendidikan.
Di samping model-model pembelajaran di atas, kita juga mengenal nama yang disebut dengan metode. Jelas antara keduanya sangat berbeda. Dalam hal ini penulis hanya akan mengkaji tentang suatu metode yang digunakan pendidik dalam mencapai tujuan pembelajaran yakni metode Foxfire. Metode Foxfire adalah suatu metode yang sangat unik digunakan oleh pendidik dan sangat mungkin dapat dicoba untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar. Karakteristik ”siswa aktif” amat menonjol dan sangat kelihatan dalam metode ini. Demikian juga dengan karakteristik ”menyenangkan”. Pendek kata metode ini dapat diterapkan di dalam proses belajar mengajar yang menggunakan pendekatan PAKEM.
Metode Foxfire sebenarnya merupakan metode penugasan atau pemberian tugas kepada peserta didik untuk melakukan kajian kemasyarakatan ke suatu daerah, kemudian hasil kajian itu disusun dalam bentuk tulisan singkat, dan akhirnya diterbitkan sebagai bentuk laporan. Tentu saja, materi penugasan tersebut adalah yang berkaitan dengan materi pelajaran yang diajarkan, yang sesuai dengan program yang terdapat dalam kurikulum. Pendidik bisa menyesuaikannya sendiri.
Lebih lanjut, adapun tujuan yang akan dicapai dengan menggunakan metode ini adalah untuk (1) meningkatkan kesadaran siswa tentang pentingnya menjaga warisan sosial dan budaya masyarakat, (2) meningkatkan keterampilan siswa dalam proses pengumpulan data, dan (3) meningkatkan keterampilan menulis.
Oleh sebab itu, apabila pendidik menerapkan metode foxfire ini. Pendidik mustinya dapat memenuhi dua persyaratan sehingga bisa metode ini jadi terlaksana, yakni :
1). Pendidik bersedia bekerja sama dengan siswa untuk membimbing dan memberi petunjuk kepada siswa.
2). Hasil kegiatan pengumpulan data harus diadministrasikan dengan baik untuk memudahkan pekerjaaan pendidik dan siswa.
Ada beberapa kelebihan dalam menerapkan metode foxfire ini yang sangat luar biasa.
1). Siswa akan memiliki keterampilan dalam proses pengumpulan data dari lapangan.
2) Siswa akan memiliki keterampilan dalam menulis.
3). Adanya kerja sama yang bersinergis antara sekolah dengan penerbit.
4). Memberikan bekal keterampilan kepada siswa untuk dapat memperoleh penghasilan melalui menulis.
5). Hasil karya siswa tersebut dapat diterbitkan dan laku dijual, maka kegiatan siswa ini akan dapat menghasilkan pendapatan yang luar biasa (generate income).
Untuk selanjutnya bila ada kelebihan tentu ada juga kelemahannya. Kelemahan dari metode ini adalah ;
1). Memerlukan waktu yang cukup lama.
2). Menyulitkan Waka Kepala Sekolah Bidang Kurikulum untuk membuat jadwal pelaksanaan metode ini.
3). Diperlukan pendidik yang berkemampuan untuk membimbing siswa untuk dapat menulis.
Berhubung karena menggunakan waktu yang cukup lama dan juga melibatkan berbagai pelaku pendidikan lainnya. Maka metode foxfire ini hanya bisa dilaksanakan dalam bentuk model penugasan proyek. Waktu yang digunakan adalah di luar jam belajar siswa. Metode ini sangat relevan dengan pembelajaran kurikulum 13 berkenaan karena ada kompetensi dasar yang mengarah kepada penggunaan metode ini. Bahkan sangat dianjurkan sekali khususnya guna dalam penekanan karakteristik siswa untuk lebih meningkatnya rasa keaktifan dalam berkreatifitas dan berinovatif sesama teman sebaya.
Untuk langkah-langkah pelaksanaannya, kita buka saja link **(censored)** Salam literasi digital.
--------------------------------------------------
Tagur_ 124
Tantangan menulis hari ke_215
Gurusianer menulis hari ke_424
Senin, 25 Oktober 2021
Salam literasi digital
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan