Alina Said, S.Pd.

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Tamu Tak Diundang

“ Ya...Mak, tadi ketika Udin sedang maraton. Udin bertemu dengan seorang wanita ,’’ ujar Udin ceplos.

“ Ah...Udin, Mak bilang ya sekarang,  jangan mengkhayal terlalu jauh! Belum tentu Ia suka padamu Udin, orang tersenyum disangka suka, jangan berpikiran seperti itu ya, Din!’ Mak nggak suka nanti Udin sakit hati dan jangan berharap duluan. Serr...darah Udin tersirap  deras. Ekspresi muka Udin jadi memerah. Udin sangka Maknya mendukung keinginannya tapi ternyata tidak.

“ Jadi, Mak tidak ingin mantu, ya?’’ Udin tegas berkata dengan  tenggorokan yang terasa mengering. Mak Udin tarik nafas dalam. Ia kasihan sama Udin  sudah pasti nanti Udin akan kecewa.

‘’ Maksud Mak bukan begitu, Din... memiliki sebuah keinginan itu tidak salah.  Tetapi musti disesuaikan juga dengan kondisi. Seandainya Udin kecewa lagi, bagaimana?’’ celoteh Mak Udin  untuk menyadarkan Udin yang kian ngawur karena terobsesi.

***

Tetiba pintu dari luar diketuk. Pembicaraan mereka jadi terhenti.

’ Tok...Tok...Tok, pintu diketuk dari luar. Udin bergegas melangkah ke pintu sepertinya ada tamu. Ternyata yang datang Kakak Udin Mawar sambil menenteng sebuah rantang. Mungkin itu adalah perbekalan untuk Mak. Mak menyuruh masuk dan akhirnnya mereka jadi bercengkerama bertiga. Mak Udin menceritakan  keinginan Udin yang akan pergi merantau serta bersuanya dengan wanita yang dibayangkan Udin.

Mawar kaget karena tidak ingin adiknya kecewa. Supaya  jelas tentang hal itu. Mawar pun bertanya kembali pada Udin.

“ Apa benar demikian Udin?’’ tanya Mawar. Udin menjawab dengan tergagap

“Iaa,  Kak Mawar,’’ jawab Udin dengan suara berat. Sembari mengoyang-goyangkan kaki untuk memupus grogi. Bahkan sebaliknya jawaban Mawar yang tak dikira  oleh Udin.

“ Wanita,  mana lagi yang  mau samamu, Din?’’ cakap sinis Mawar merendahkan diri Udin.

Udin tersentak mendengar untaian kata-kata  Mawar. Ia tak mau berdebat dengan kakak satu-satunya . Udin berusaha menahan diri.

“ Jangan Kakak merendahkan , akulah...Dengar ya Kak, ibarat sebuah pantun Kak bunyinya begini ...

 Terang bulan terang di kali

 Terangnya sampai ke hutan jati

 Yang sudah hilang takkan kembali

 Datang lagi yang lain sebagai ganti 

Udin meyakinkan Kakaknya, sambil menoleh dengan senyum sumringah pada Maknya. Ungkapan keinginan Udin yang disampaikan lewat pantun memancing Maknya dan Mawar tertawa .

***

Suasana malam semarak oleh tertawa renyah  Ibu dan dua anak . Mereka jarang berkumpul karena kesibukan Mawar yang berbisnis. Sehingga hanya Mak Udin yang sering ke tempat Mawar . Tepat pukul 09.00 WIB  malam. Mawar kembali ke rumahnya dengan mengendarai motor. Namun sebelum meninggalkan rumah orangtuanya. Mawar sempat memberitahu Udin. Jika nanti, Udin  merantau, jangan lupa beri kabar Dia. Udin mengiakan kata-kata kakaknya. Setelah kepulangan  Mawar, Udin masuk  kamar dan berbaring indah . Kepada  langit-langit kamar Udin tersenyum sendiri  dengan harapan bahwa seumpamanya esok pagi hari tidak hujan, rencana   Udin akan maraton lagi.

----------------------------------------------------

Tagur_ 100

Tantangan menulis hari Ke_ 191

Gurusianer menulis hari Ke_ 400

#Cerpen Ke_ 09  di MGI

Salam literasi_ 1 Oktober 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post