Alina Said, S.Pd.

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Udin Kecewa Lagi

Malam menyemai rindu beriringkan dendangnya nyanyian alam, membuai jiwa-jiwa yang terlena mimpi. Seketika mentari bertandang memendarkan senyum. Udin bergegas bangkit dari pembaringan indahnya mengejar mimpi pagi yang didambakan. Udin berlari-lari kecil menyusuri jalan yang kemarin dilalui. Harapkan bunga hati merekah kala pagi.

***

Para Peraton terlihat hilir-mudik di sela-sela kenderaan yang berseweliran. Tidak ada yang berubah dengan jalan yang kemarin dilaluinya. Angannya mulai resah. Kekalutan mulai menerjang sukma, bahkan Udin sudah berbalik arah. Namun sosok wanita yang hadir di pelupuk netra beberapa waktu yang berlalu, tiada tampak jua. Rasanya bergalau ria. Tiba-tiba dari samping, melintas seorang anak kecil dengan postur tubuh yang persis sama dengan wanita yang di angannya Udin. Udin tak membiarkan kesempatan itu. Ia beranikan untuk bertanya.

“ Hei, Dek boleh bertanya nggak?’’ sapa Udin pada anak kecil itu. Anak tersebut menghentikan langkahnya.

‘’ Ya Bang, ada apa?’’ jawabnya.

“ Begini... Kakaknya, yang meraton sama adik kemarin kemana? Kok nggak kelihatan maraton pagi ini?’’ kata Udin dengan sukma yang berdegup-degup.

‘’ Oh, Kak Riana ya, Dia sudah balik ke Rantau Bang,’’ jawab anak itu dengan singkat dan berlalu dari hadapan Udin.

Udin kaget, bagaikan disambar petir. Rasa happy tadi pagi pupus bersulih gulana yang membara di dada. Udin terperangah berusaha tarik nafas. Mulutnya bukam bak terkunci rapi. Kakinya kaku diajak untuk melangkah. Ada bening mengenang di bola mata Udin. Ia jadi teringat kata Maknya. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan akhirnya kekecewaan yang didapat Udin kembali.

***

Dengan gontai Udin pulang ke rumah. Di ufuk timur matahari terang menyinari. Embusan sang bayu menerpa sejuk pepohonan dan nyiur yang beralun tenang. Berlawanan dengan hati Udin yang buncah, serta raga Udin yang lunglai berpeluh dingin. Udin berharap secepatnya sampai di rumah. Di benak Udin terbayang bagaimana Emaknya bisa kembali bercerita tentang dirinya dan jodohnya. Hari ini Udin ternyata kecewa Mak. Monolog batin Udin membuncah tak terkirakan.

---------------------------------------------------

Tagur_ 101

Tantangan menulis hari Ke_ 192

Gurusianer menulis hari Ke_ 401

#Cerpen Ke_ 09 di MGI

Salam literasi_ 02 Oktober 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post