Jodoh yang tak Diduga
Memang lelaki tipe seperti Udin yang selama ini dicari Elda. Terbuka, jujur, pengertian dan sepertinya penyayang pada orang. Bak dipucuk dicinta ulam tiba kini tipe lelaki yang didambakan Elda sudah di depan mata dan rupanya sabarnya telah menghalau galau saat ini. Sontak, pertanyaan Udin langsung dijawab oleh Elda tanpa basa-basi dengan menjawab sepolosnya.
‘’ 30 tahun Bang, memangnya ada apa rupanya?’’ tanya Elda seakan-akan tidak yakin juga akan rasa yang ada di lubuk hatinya.
" Sip, tepat sekali, " jawab Udin dengan acuh-acuh saja dengan helaan nafas dalam. Hingga membuat Elda jadi penasaran. Kemudian barulah menjawab kembali pertanyaan Elda.
‘’ Ah, tidak ada apa-apa Elda, cuma bertanya saja apa nggak, boleh?’’ celoteh Udin yang kini sudah mulai menyemai rasa suka, tampak di wajahnya ada merah merona. Bibirnya tersenyum sungging, saking bahagia. Meskipun sesungguhnya Udin juga menyadari, bahwa tak sepatutnya bertanya akan hal itu pada wanita yang baru dikenal. Tapi, sekurang-kurangnya Udin sudah tahu berapa umurnya Elda, agar jangan terlanjur jauh untuk berkenalan dengan usia yang belum matang.
***
Selanjutnya percakapan di antara mereka berlanjut pada promosi dan transaksi tawar-menawar motor, dalam sebuah ruangan aula berdinding kaca. Di sana terlihat banyak motor dan mobil dan ada yang lagi promo. Elda mengungkapkan maksudnya, bahwa Ia akan membeli motor baru dan bukan tukar tabah kenderaan. Udin dengan senang hati melayani Elda. Bahkan Udin menyugguhkan sebotol minuman dingin, bermerekkan fanta dan cola-cola, buat Elda sebagai konsumen. Lalu Ia pun mengajak Elda melihat satu persatu kenderaan yang terpajang berjejeran berbarengan. Di sekeliling tampak para pegawai seakan-akan sudah mengerti, bahwa Udin orang yang dipercaya oleh Si Bos. Mereka membiarkan Udin dan Elda begitu saja. Karena percaya dengan kemampuan Udin yang pandai berbicara dalam tawar- menawar barang.
***
Satu jam sudah berlau Elda bersama Udin. Serasa Udin tidak membiarkan waktu yang sempit terbuang bersama Elsa. Sesekali Udin melirik Elda tanpa diketahui. Dalam pikirannya kadang terbersit, apakah Elda suka padanya? Terkadang Udin juga tidak yakin. Kemudian keyakinannya itu muncul lagi karena memandang sikap Elda yang tetap tenang tapi bereaksi.
***
Bersamaan dengan hari itu, ketika sang surya berbinar sumringah, tiada suatu pun yang dapat melintanginya. Di angkasa tiada bermega, hening berseri sangat bagusnya. Seolah-olah bagaikan disepuh rupanya. Sementara itu, di rumah si Bos sedang terjadi percakapan serius antara orangtua Elda dengan Si Bos. Si Bos rupanya bukan keluar kota. Pegawai yang lain juga sudah dikontaki oleh Si Bos. Ia sengaja mengatur pertemuan Udin dengan Elda agar Udin bisa berkenalan lama dengan Elda. Si Bos melakukan itu, karena kehendak dari orangtuannya Elda, yang sudah hampir putus asa untuk mencarikan jodoh buat anaknya. Rencana Si Bos, esok lusa akan mengajak Udin kembali ke rumahnya untuk diperkenalkan dengan orangtuannya Elda.
( Bersambung )
----------------------------------------------------------
Tagur_ 139
Tantangan menulis hari ke_230
Gurusianer menulis hari ke_438
#Cerpen Ke _ 11 di MGI
Selasa, 09 November 2021
Salam literasi
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan