Jodoh yang tak Diduga
Sekembalinya Udin dari ruang Si Bos. Terdengar senandung-senandung kecil dari rongga mulut Udin, yang mendekati ruang kerja. Seakan-akan terhampar gelombang kebahagiaan di hari ke depan. Lalu Udin melanjutkan tugasnya, dalam mulai melarutnya warna jingga di cakrawala yang diam menelusup di ventilasi jendela. Perpaduan irama musik yang mengelayut membukam kupingnya mengayun-ayun palung sukmanya laksana padi segenggam didapatkan lebih baik terasa daripada selubung padi yang diusahakan bersusah payah. Tampak terpendar dari roman muka Udin yang cerah.
Waktu kian berlalu, manakala mentari hampir membenamkan diri. Pekerjaan yang sarat menyita raga membuat Udin agak lelah dan telat pulang. Segera Udin berkemas. Di tengah perjalanan Udin mampir sejenak menunaikan salat . Ada seorang Bapak tua yang terlihat oleh Udin sedang berjalan tenang membawa gayung. Udin pun menyapa dengan sopan.
“ Assalamuallaikum!’’ sapa Udin.
‘’ Wallaikum salam!’’ jawab Bapak tua itu.
“ Pak, bolehkah saya menumpang salat di tempat ini?’’ pinta Udin harap. Bapak tua itu malahan menjawab seolah-olah memberikan petaruah.
“ Boleh Nak, segenap tempat di jalan ini adalah milik Allah. Manusia hanya diberi tumpangan, silakanlah, Nak... di sebelah kiri ambil wudhuknya!’’ ujar Bapak tua itu sembari menatap jauh ke jalan yang diseleweliran hilir-mudiknya kenderaan.
“ Terimakasih pak!’’ jawab Udin. Desauan suara air dari kran, menyejukkan kulit Udin yang tersiram.
Usai salat Udin segera memacu motornya dan melaju ditelan gelapnya malam yang dihiasi oleh gemerlapnya lampu di sepanjang jalan. Sekitar pukul 08.00 WIB malam, Udin baru sampai di kontrakan. Bersua Deni yang lagi nongkrong di bibir pintu. Senyumnya memancarkan sinar wajah keakraban serasa akan menggoda Udin. Deni pun bertanya.
“Dari mana lu, Din.. kok telat pulang?’’ tanya Deni dengan senyum melebar seperti menggoda . Udin berusaha membela diri.
“ Deni, jangan prasangka dulu dong.. Di kantor banyak tugas yang harus rampung, yach terpaksa telat sampai di rumah!’’ jawabnya serius dengan pipi merona.
“ Ah, benar nih... jangan ..jangannnn.... ,’’ Belum Deni selesai berkomentar tetiba gawainya bergema. Deni mencoba menebak.
“ Nah..itu kan, ada cewek yang menelpon!’’ sindir Deni. Udin juga terperajat dan mengangkat gawainya yang ditaruh di kantong tas.
Godaan Deni tak lagi dihiraukan Udin. Ia fokus dengan HP yang berulah. Ada gemuruh rasa yang terpendam, tatkala mengenggam HPnya. Tapi, Ia cepat menyadari bahwa yang menghubunginya, orang yang tidak asing lagi baginya. Rasa itu pun sirna, ketika telah melirik nama yang tertera .
----------------------------------------------------
Tagur_ 132
Tantangan menulis hari ke_223
Gurusianer menulis hari ke_431
Selasa , 02 November 2021
#Cerpen ke _11 di MGI
Salam literasi digital
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan