Alina Said, S.Pd.

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Jodoh yang tak Diduga

Ketika Si Bos dengan Ibunya Elda lagi seriusnya bercengkerama tentang perjodohan Udin dan Elda. Mendadak HPnya Si Bos berdering. Percakapan mereka pun jadi terhenti sejenak. Maksud hati Udin menghubungi Si Bos ingin memberitahukan tentang keinginan Elda, untuk membeli motor yang baru. Bagi Si Bos oke.. oke saja. Malahan Si Bos bertanya pada Ibunya Elda tentang keinginan Elda untuk beli motor yang baru. Ibu Elda menjawab bahwa itu adalah benar.

***

Sebaliknya, seusai Udin menemani Elda melihat motor yang akan dibeli. Bahkan di antara mereka sudah ada transaksi. Sesudah itu, Udin menyuruh Elda untuk kembali datang besok pagi. Udin berkata.

" Elda, besok Elda terpaksa ke sini lagi ya, untuk mengambil motornya. Sebab sekarang motor yang dibeli belum bisa dibawa pulang, karena harus diservice dulu. Terus, jangan Elda lupa bawa KTP oke," tukas Udin.

" Baik, Udaa... ," jawab Elda, yang terlihat sudah mulai percaya diri akan rasa yang tersembunyi pada diri Udin. Ia memang sengaja memanggil Udin dengan sebutan istimewa. Udin jadi melambung tinggi sukmanya. Mukanya merah merona, tanda suka dengan panggil tersebut.

" Hihihihihihiii , kok panggil Uda sama saya ya?" tanya Udin balik sembari tertawa.

" Yach.. lihat dialeknya Uda. Sepertinya orang Minang, makanya Elda panggil, Uda," jawab Elda bercanda juga.

" Oh, ya.. ya benar juga ," Kali ini Udin tertawa ringan namun hatinya senang.

Kemudian Udin pun mengantarkan Elda sampai ke area parkiran. Mereka berdua tampaknya semakin akrab, bagaikan bunga dan kumbang yang seolah-olah saling membutuhkan.

***

Waktu kian berlalu. Tatkala cakrawala terlihat cerah memendarkan cahayanya. Langitnya hijau laksana tabir wilis tampak. Teriknya yang meradang membakar tubuh bagi pejalan lintas, baik motor atau kederaan lainnya. Sehingga Elda pun terpaksa mengenakan jaket, agar kulitnya yang putih mulus tidak berona gelap. Sekembalinya Elda, ada rasa sepi yang menyemai dari dalam kalbu Udin. Lantas Ia kembali bergelut dengan gawai digitalnya. Dalam elaan nafas panjang terbesit dipikiran Udin Maknya di kampung. Udin berasa sudah lama tak memberi kabar tentang dirinya pada Maknya tercinta. Bahkan bila Maknya tahu Ia kenal akan Elda. Pasti Maknya senang. Selain itu, Maknya juga akan terpana dengan wanita yang bernama Elda. Wanita yang tidak diduga-duga, yang kini hadir mengjsi relung hatinya yang telah membeku. Apalagi jika telah memandang Elda dengan tampilan yang memesona.

(.Bersambung )

--------------------------------------------

Tagur_ 144

Tantangan menulis hari ke_235

Gurusianer menulis hari ke_443

#Cerpen Ke_11 di MGI

Minggu, 13 November 2021

Salam literasi

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post