Jodoh yang tak Diduga
Ternyata yang menghubungi Udin adalah Bosnya, yang memberikan kabar bahwa esok beliau tidak ke kantor. Berkenaan ingin ke luar kota. Si Bos berpesan pada Udin, bahwa Elda akan datang besok pagi, pukul 08.00 WIB ke kantor. Lalu Si Bos pun mengatakan jika Elda ke kantor, Udin tolong melayani Elda dengan baik. Setelah mendengar pembicaraan Si Bos dari seberang. Lantas gawainya, Si Bos ditutup. Seketika itu roman wajah Udin terpancar ada kelegaan. Udin sejenak membayangkan bagaimana besok pertemuannya dengan Elda. Bagi Udin rupanya Elda sudah laksana cahaya yang rasanya akan mampu menyinari kehidupan. Bayangan Elda sudah mulai melekat di memorynya. Memandang sikap Udin demikian, Deni malahan tambah penasaran. Ia mencoba lagi menggoda Udin.
“ Telpon dari siapa Din, ayo..?’’tanya Deni sambil melirik gawai yang masih ada dalam genggaman. Sesudah itu, Udin pun masuk ke dalam rumah kontrakan. Membiarkan Deni sendirian di luar.
***
Malam pun berlalu menyapa pagi. Saat mentari belum beranjak dari peraduannya. Udin sudah duluan beranjak dari pembaringan. Udin membuka mata dan menyiapkan diri untuk berangkat kerja. Mengendarai motor, menelusuri jalan yang sarat dengan kenderaan. Semua kian menambah semangat dan optimis Udin dalam bekerja. Di cakrawala meski masih ada sedikit bayangan mendung, namun tak menyurutkan semangat bagi Udin untuk secepatnya sampai di kantor.
***
Selanjutnya Udin tergopoh-gopoh turun dari motor yang dikendarainya, setiba di area parkiran. Ketika Udin sampai di pintu masuk lobi-lobi langkahnya jadi terhenti. Ia melihat sosok wanita sudah duduk di kursi tamu di lobi-lobi. Dorongan pintu membuat lamunan wanita tersebut jadi ambyar. Sehingga tatapan wanita tersebut, yang semula kosong mamandang seisi lobi-lobi. Sudah berpaling ke arah Udin. Ratna seorang resepsionis yang sedang bertugas tatkala melihat Udin datang langsung berteriak memanggil.
“ Din...ada yang mencarimu, tuh! ’’ pekik Ratna sambil menunjuk ke arah Elda. Sontak saja Udin tersirap darahnya karena wanita tersebut sudah memandang Serr...darah Udin mengalir kencang . Ternyata wanita tersebut adalah Elda, wanita yang sudah kembali membuat hidupnya berbunga-bunga dan kini sudah di depan mata.
“ Ya, Ratna,’’ jawab dengan cuek. Pikirannya kini sudah beralih pada Elda.
“ Sudah lama menunggunya, Elda,’’ tanya Udin mencoba bercakap, sambil duduk di bangku sebelah Elda.
“ Nggak Pak Udin, baru juga sampai,’’ jawab Elda lirih seraya memutar badannya menghadap kepada Udin. Udin tak sabar untuk lebih Elda lebih dalam lagi. Seakan-akan tak membiarkan kesempatan waktu untuk bersua dengan Elda.
“ Oh, ya...Elda tidak usah panggil Pak pada saya, cukup Udin saja atau .... umur Elda berapa? ‘’ tanya Udin. Udin kayaknya sudah mulai bertanya tentang pribadi Elda. Elda jadi terheran. Ia ingin menjelaskan maksudnya. Tapi Ia kendalikan meski mulutnya sudah terbuka untuk berkata. Di dalam hatinya ada bisikkan-bisikkan aneh yang juga tak biasa Dia rasakan. Perasaannya menggelitik senang juga dengan keterbukaan Udin, seolah-olah hatinya sudah bagaikan tertawan oleh Udin.
( Bersambung )
-------------------------------------------
Tagur_ 136
Tantangan menulis hari ke_227
Gurusianer menulis hari ke_435
Cerpen Ke_11 di MGI
Sabtu , 06 November 2021
Salam literasi
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan