Alina Said, S.Pd.

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Meniti Bayang - Bayang Hari nan Fitri

" Adelia coba tenangkan dirimu dulu, setelah itu baru bicara," jawab Diana dengan bijak.

" Aku terburu - buru pulang Diana, karena aku ditunggu kakakku, yang kebetulan juga ke sini, tuh Dia lagi menunggu," Adelia menyakinkan Diana dan Dzakkiya dengan menunjuk sesuatu.

" Jadi sekarang ceritanya kamu jadi mak comblang ya buat Yodi. Mengapa tidak Yodi saja yang langsung minta maaf ? " Ledek Dzakkiya sambil tertawa.

" Bukan begitu maksudnya Dzai, saya cuma menyampaikan pesa, " Adelia menyela perkataannya.

" Yach, sudahlah. .. kami maafkan Dia, sekarang bulan ramadan harus banyak meminta maaf dan memberi maaf, agar semua kesalahan kita terhapuskan," imbuh Dzakkiya tanpa ada rasa yang disimpan.

" Betul Dzakkiya seratus untukmu,""sambung Diana.

" Oke , kalau begitu saya balik ya, Dzai , Din," ucap Adelia dan langsung pergi.

Ketika Adelia pergi. Ada gumaman dari mulut Diana dengan menyebut nama " Yodi ".

" Si Yodi itu memang benar -benar aneh ya Dzaikkiya , tidak jentelmen," ujar Diana penasaran.

*

Sesampainya Dzakkiya di rumah . Salah satu kebiasaan Dzakkiya yang tak pernah Ia lupakan adalah mengambil Al-.quran yang tersusun rapi di meja. Lalu benda itu dibacanya. Bapaknya dulu pernah mengatakan, bagi siapa saja yang membacal Al-quran , yang membaca tersebut akan mendapatkan pahala, pikiran dan hatinya akan selalu terjaga dari pikiran buruk pada orang lain. Kemudian Bapak Dzakkiya juga mengatakan orang yang membaca Al - quran dapat meningkat kecerdasan otaknya. Dilindungi Allah SWT. Tetapi untuk ke depan nasehat-nasehat itu takkan lagi didengar . Bapak Dzakkiya telah duluan menghadap Allah SWT . Tak terasa sedih membuncah di atmanya seketika. Buliran bening telah menggenang sudut mata Dzakkiya, namun secepatnya ditepiskan dengan mengulang lagi baca Alquran.

*

Malam semakin larut dalam buaian cakrawala. Jangkrik-jangkrik pun berdendang riang. Menghibur senyapnya malam. Suasananya juga ditemani oleh rintik hujan yang perlahan bertandang. Terkadang kuat dan terkadang hilang. Dzakkiya membiarkan malam menyampaikan apa yang tak terlisankan. Kesunyian memiliki gaduhnya sendiri, dan kekosongannya tak selalu dapat disinggahi. Dendangnya malam tak dihiraui. Kekuatan atmanya hadir dengan maksud menemui sang Ibu untuk membukam rasa yang bersemayam di lubuk hati, yang hanya semata untuk meniti bayang-bayang hari nan fitri secercah menanti.

( Bersambung )

--------------------------------------

Kamis, **(censored)**

#Gurusianer menulis_573

#Tagur_34

#Cerpen Judul Ke_ 13 di MGI

#Salam literasi !

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post