Alina Said, S.Pd.

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Meniti Bayang -Bayang Hari nan Fitri

Setibanya di depan rumah Diana. Rupanya Diana sedang duduk di teras. Melihat kedatangan Dzakkiya Ia pun langsung girang.

" Hei, Dzakkiyaaa, tumben pagi ke sini ?" Sembari bersorak memanggil nama Dzakkiya. Sedangkan Dzakkiya tenang-tenang saja, melukis asam sukma.

" Aku keluar rumah tujuannya untuk maraton pagi, Diana," ucap Dzakkiya datar.

" Oh , ya...tapi mengapa tidak mengenakan pakaian olah raga. Maraton tentunya berpakaian olah raga, bukaan.?" Belum lagi dijawab Dzakkiya Diana sudah menyambung kembali pembicaraannya.

" Oh..Ia, pasti deh mengajak aku membeli baju lebaran atau sandal ya, kan ?" kata Diana sambil melirik dandanan yang dikenakan Dzakkiya mulai dari atas kepala hingga ke jemari kaki.

" Bukannnn....Diana, bukaaan..itu. Tetapi aku ke sini minta nomornya, Adelia adakan?" Kini nada suara Dzakkjya mulai meninggi. Melihat ekspresi Diana berubah. Ia pun jadi kaget dan menanyakan untuk apa nomor Adelia Ia minta. Lalu dengan serius Dzakkiya menceritakan apa motif perkaranya.

" Aduh, Dzaiiii..pasti ada apa-apanya tuh, Yodi, aku yakin ," tutur Diana berasa yakin sambil memberikan nomor Adelia padanya. Akibatnya terpancar Dzakkiya agak mendongkol hatinya. Namun tidak diperlihatkan dengan sikap.

Setelah mendapatkan nomor Adelia dari Diana. Dzakkiya langsung menghubungi Adelia. Disebrang gawainya Dzakkiya mendengar Diana beres-beres tempat tidur. Percakapan panjang pun terjadi antara Adelia dan Dzakkiya.

Sementara itu Dzakkiya sangat berkecil hati. Ia pun tidak hilang akal. Karena besok masuk sekolah. Dzakkiya bermaksud menjumpai Yodi bersama Diana.

*

Hari yang ditunggupun datang. Dzakkiya mengajak Diana serta Adelia menemui Yodi ke kelasnya. Laki -laki itu di ajak keluar kelas oleh mereka bertiga. Dzakkiya tiada bersabar tampaknya.

" Yodi, kami mau bertanya nih, apakah ada nomor saya di HPmu ?" tanya Dzakkiya ingin penjelasan.

" Ia, memangnya kenapa, Dzai, " jawab Yodi jujur. Terus Dzaikkiya bertanya untuk yang kedua kalinya.

" Apakah kamu yang mengirim chat ini," tegas Dzakkiya sambil memperlihatkan chat yang masuk.

" Benar, saya yang kirim memangnya kenapa, Dzai.. saya dapatkan nomor itu dari Adelia," Dengan berani Yodi menjawab. Ekspresi Diana dan Dzakkiya tampak berubah menatap ke arah Adelia. Lalu Diana berkata emosian.

" Adelia lidahmu janganlah seperti lidah buaya, dan hatimu, seperti biawak," cerutu Diana dengan kesal.

" Diana, Dzakkiya tunggu dulu,.. aku dilarang Yodi untuk diam. Makanya aku mengatakan tidak tahu ketika ditanya Dzakkiya.

Dzakkiya dan Diana berusaha mengendalikan dirinya. Sementara itu Adelia terlihat geram pada Yodi.

Lalu kini Adelia yang angkat bicara.

" Apa maksudmu Yodi, mengirim chat tersebut?" Gertak Adelia.

Yodi hanya diam sambil merunduk. Tapi kemudian Ia pun mau mengaku.

" Saya suka Dzakkiyaa, Ia baik dan juga manis, saya ingin PDKT kalian " tutur Yodi jujur dan polos.

" Aduuhhhhh, Yodi......Dzakkiya ini temanmu satu sekolah, jangan mimpi begitu ya, di siang bolong dan jangan sampai bertepuk sebelah tangan, takkan bisa itu kamu lakukan, jangan suka membayangi yang nggak..nggak !" tukas Diana tegas, nada suaranya sudah terdengar meninggi sambil menepuk jidatnya.

" Ia Yodi, jangan berpikir arah ke sana. Kita ini masih anak sekolahan, masih panjang lagi waktu kita untuk belajar dan fokus belajar," imbuh Dzakkiya.

" Ayo, minta maaf sama Dzakkiya...kita berempat berteman. Sebentar lagi lebaran baiknya kita rayakan dengan hati yang suci di Hari Lebaran nan penuh fitri, mari bersalaman!" kata Diana seraya mengulurkan tangannya. Mendengar ucapan Dzakkiya yang jujur dan ungkapan Diana yang menyentuh. Sontak Yodi mengulurkan tangannya pula dan menyalami ketiga temannya. Terlihat di wajah Yodi kecerahan tanpa ada yang disembunyikan.

" Maafkan saya ya Dzakkiya, ke depan mungkin tidak ada lagi asa yang seperti ini, kita adalah teman dan pantas untuk hal itu," ucap Yodi tulus kemudian berlalu dari hadapan ketiga cewek tersebut. Dzhakkiya , Diana dan Adelia pun juga bubar. Mereka kembali ke kelasnya masing-masing.

*

Siang teriknya sangat menyengat. Ramadan berteman surya menguji kesabaran umat_Nya. Ada kelelahan yang menyerggap dalam derap langkah kedua sahabat itu, yang terlihat dalam keadaan gontai.

" Hufh panas sekali Dzai, " celutuk Diana .

" Huss..tak boleh bicara begitu, puasamu jadi batal Diana, " tegur Dzakkiya. Diana terdiam sambil menyeka keringat yang menempel di pelipisnya dengan tisu. Kemudian pembicaraan mereka beralih tentang pembuatan kue lebaran sambil berjalanan. Diana mengatakan bahwa Ibunya di rumah sudah membuat kue lebaran sebanyak 5 macam dan menyebutkannya satu persatu. Ada kue sapik, kue bawang, mentega , keripik pisang, kacang tujin yang telah siap dalam botol toples. Senentara itu, Ibu Dzakkiya baru akan membuat kue. Kue yang dibuat Ibu Diana tidak jauh beda dengan yang akan dibuat Ibunya Dzakiya, sepertinya sudah menjadi suatu budaya atau tradisi di daerahnya.

Bersambung

-------------------------------------------

Minggu, 10._04_2022

#Gurusianer menulis_576

#Tagur_37

#Cerpen Judul Ke_ 13 di MGI

#Salam literasi !

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post