Meniti Bayang-Bayang Hari nan Fitri
Denting waktu terus melaju seirama masa yang berputar pada porosnya. Tiga hari telah berlalu. Dzakkiya menagih janji pada sang Ibu untuk membelikan baju lebaran. Keinginan akan hal itu terus menguncang lubuk hatinya karena terpicu melihat salah seorang temannya di wa group yang mengirimkan sebuah gambar model baju lebaran yang sedang promo. Akibatnya Dzakkiya jadi teringat akan janji dari Ibunya. Walau keinginannya tersebut sangat bertentangan dengan hati kecilnya, yang tak ingin merepotkan sang Ibu. Karena berpenghasilan yang tidak sama dengan orangtua Diana seorang pengusaha yang sukses. Selain itu juga masih adanya dua jenis kue yang belum bisa dibuat Ibu Dzakkiya. Dikarenakan kondisi dana yang dimiliki Ibunya sudah bagaikan condong ditimpal, lemak diaduk. Terpaksa pembuatan kue tersebut tertunda.
*
Meskipun demikian masih terasa ada yang menganjal di hati Dzakkiya. Dzakkiya ingin kejelasan dari Ibunya masih adakah dana atau tidak. Tetapi Dzakkiya tidak perlu bertanya langsung masalah finansial itu. Seandainya sang Ibu tidak punya. Dzakkiya tidak akan memaksa Ibunya untuk harus membelikan baju lebaran. Untuk itu Dzakkiya mencoba memberanikan diri bertanya pada sang Ibu.
" Bu, maafkan Dzakkiya, bukan Dzakkiya lancang tapi Dzakkiya ingin tahu saja, jadi nggak Bu, Dzakkiya beli baju lebarannya?" Tanya Dzakkiya memelas. Si Ibu yang sedang asyik memasak mendadak terkejut, karena Dzakkiya bertanya dari belakang. Bahkan hampir saja wajan berupa teflon yang dipegangnya hampir terjatuh.
" Oh, Iya...Jadi Nak. Sebelum kue Ibu buat. Ibu sudah menyisihkan dana untuk membeli baju lebaranmu, Nak, " jawab Ibu Dzakkiya serius. Besok jika Dzakkiya jadi beli baju lebaran, Ibu bisa antar Nak, bagaimana?" Jawab Si Ibu lirih. Mendengar jawaban sang wanita itu, Dzakkiya baru merasa tenang.
" Ia, Bu...Dzakkiya mau sama Ibu, aja," ujar Dzakkiya sembari mencuci piring di wastapel.
*
Setelah menyiapkan piring untuk makan malam di meja. Dzakkiya duduk sejenak di meja belajarnya. Sesudah itu tiba-tiba gawainya berdering.
"" Kring...kring...kring...Dzakkiya langsung angkat.
" Wallaikum Salam, Diana .. nggak jadi deh, kita sama-sama beli baju lebarannya. Aku bersama Ibu saja jadinya, nggak apakan?" Kata Dzakkiya . Selanjutnya terlihat Dzakkiya memanggut-manggutkan kepala, mungkin itu isyarat bahwa mereka berdua sepakat dengan apa yang dibicarakan HP.
--------------------------------------
Senin, 11 _04_2022
#Gurusianer menulis_577
#Tagur_38
#Cerpen Judul Ke_ 13 di MGI
#Salam literasi !
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan