Secercah Kisah dalam Masa Belajar Pandemi
Mengupdate kembali tulisan yang tayang dua hari yang lalu. Penulis mengirim dua tulisan kiranya pada hari yang sama, padahal penulis sudah mengirim tulisan pada tantangan hari tersebut . Berarti ada dua tulisan yang terkirim. Tulisan penulis dauble rupanya ya. Maklum faktor u . Terpaksa dihapus kembali postingan yang ke-2 dan sekarang diupdate kembali dalam redaksi yang berbeda. Namun, dalam cerita dengan topiknya yang sama tentang gita cinta Bu Hanni.
Ceritanya begini Gurusianer, kisah ini hanya sebentuk kisah. Penulis punya prinsip yang sama dengan teman yang namanya Bu Hanni. Bu Hanni seorang pendidik boleh dikatakan termasuk seorang guru yang kreatif. Hal itu terlihat dalam proses pembelajaran Bu Hanni menggunakan IT untuk menstransformasikan materi yang diberikan pada siswanya sehari-hari. Para siswanya pun menyambut dengan hangat. Karena memang tampak dari raut wajah mereka yang terlihat berseri-seri.
Lalu untuk membuktikan siswanya senang atau tidak. Bu Hanni sengaja bertanya setelah akhir pembelajaran. Jawaban siswa Bu Hanni ternyata memang benar, mereka senang.
Sehingga Bu Hanni memberanikan diri setiap masuk ke kelas dengan mengandeng tiga bentuk Tas. Tas yang satu ditaruh di pundak kiri berisi infokus , tas yang kedua berisi laptop dan ke tiga ada perangkat mengajar. Dalam pikiran Bu Hanni hal itu dilakukannya karena dengan tujuan siswanya senang , pembelajarannya menarik serta tuntutan daripada pembelajaran itu sendiri. Guru dan siswa harus mampu IT. Bahkan sudah merupakan proses tahap pembelajaran itu sendiri di Kurikulum 13. Tapi sayang seiring berjalannya waktu ketika masa pandemi siswa Bu Hanni tidak ada reaksi sama sekali. untuk zoom. Sebabnya Bu Hanni kurang tahu, Padahal mereka ada hadir secara online di grup wa.
Pernah suatu ketika Bu Hanni mencoba.menguji mereka dengan mengirimkan link zoom di grup wa untuk membuka pendaftaran agar siswa Bu Hanni belajar mengikuti pembelajaran secara daring melalui zoom. Namun, reaksi dari siswa Bu Hanni tidak ada sama sekali. Mereka cuma diam sambil mengisi daftar hadir. Melihat reaksi siswanya demikian. Lantas Bu Hanni tidak kehilangan akal. Ia mencoba menghubungi siswanya secara pribadi. Alhasil yang diperoleh Bu Hanni dari jawaban para siswanya bermacam - macam. Ada yang menjawab paketnya habis. Ada yang menjawab HPnya dipakai kakaknya. Lalu ada juga yang punya alasan bahwa orangtua mereka mengatakan tidak ada punya uang, guna membeli pulsa. Terus yang membuat hati Bu Hanni paling nyesek adalah ada siswa yang menjawab dengan melontarkan pertanyaan balik dengan kalimat, kok Ibu kasih tugas sama saya? Ternyata yang memeggang HP adalah orangtua siswa. Bu Hanni bersikap positif saja. Barangkali orangtua siswa yang dihubungi lagi berada di pasar.
Untuk menyikapi hal tersebut. Timbul dalam pikiran Bu Hanni untuk tidak memaksa siswanya , dengan alasan mungkin siswanya bisa menggunakan IT lewat flashdisk ketika dalam belajar kelompok menyajikan laporan tugas ke depan. Lagi pula Bu Hanni juga tahu mengajar dan mendidik itu perlu juga memperhatikan karakteristik latar belakang siswa. Akan tetapu, sebaliknya hal itu sangat diharapkan. Singkat cerita Bu Hanni akhirnya mengajar secara luring dan sesekali daring . dengan wa dalam bentuk tagihan tugas, Sebagai bentuk pengingat agar siswa tidak lupa dengan tugas yang sudah diberikan beliau.
----------------------------------------
Rabu_ 22 _06_2022
#Tagur_ 40
#Gurusianer menulis _652
#Salam literasi
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan