Sekilas Pandang tentang Kurikulum Merdeka
Satu setengah tahun usai pandemi dan dua setengah tahun pendidikan Indonesia dihadapkan dan bergelut dengan dua kurikulum, yakni K.13 dan Kurikulum darurat. Lalu kurikulum darurat berlanjut dengan sebutan kurikulum merdeka. Akan tetapi konsep daripada kurikulum merdeka belum sepenuhnya melekat di hati pendidik. Hal itu mungkin karena masih dalam perubahan. Kecuali bagi guru yang sudah terdaftar sebagai guru penggerak. Meski pernah mencoba dari segi standar proses melalui daring dan luring, namun dari segi standar isi tetap menjalankan kurikulum 13. Berkaca akan hal itu, Pemerintah saat ini belum bisa memaksakan harus memberlakukan secara utuh kurikulum tersebut. Karena kurikulum merdeka pada dasar implementasinya tidak dipaksakan secara langsung, pada awal pemberlakuannya oleh Kementrian Pendidikan , Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Pasalnya masih merupakan bagian dari pengadopsian implementasi kurikulum merdeka sebagai proses awal perubahan pembelajaran yang memerlukan adanya pertahapan. Untuk itu, satuan pendidikan diberikan opsi untuk menerapkannya bertahap-tahap tidak harus berubah langsung.
Lebih lanjut bila dimaknai secara umum, makna daripada kurikulum merdeka menurut Mendikbud Nadiem Makarim adalah sekolah, murid dan guru memiliki kebebasan untuk berinovasi, belajar dengan mandiri dan kreatif. Berupaya memberikan ruang inovasi di masing-masing sekolah dalam pencapaian pembelajaran ( CP ) kompetensi minimum di setiap mata pembelajaran agar lebih optimal, dan dapat mengapresiasikannya . Di samping itu siswa pun memiliki banyak waktu dalam mendalami konsep serta menguatkan kompetensi mereka. Jadi dapat disimpulkan bahwa kurikulum merdeka bukanlah sebuah kebebasan yang tidak terarah. Hal ini dapat dicontohkan, apabila seorang siswa tidak mampu menampilkan pidato atau puisi dan sebuah karya berupa produk di depan guru dan temannya. Siswa yang bersangkutan boleh mengirimkannya lewat video agar lebih leluasa dan percaya diri dalam hal penguasaan capaian pembelajaran.
Kurikulum merdeka belajar mengajar dipersembahkan oleh Pemerintah untuk lebih memudahkan guru mengajar sesuai dengan kemampuan siswa, guru bisa menyediakan latihan untuk meningkatkan kompetensi mereka, serta perlunya untuk menginspirasi rekan sejawatnya agar bisa saling berbagi secara daring atau luring . Maka dari itu, ada tiga fungsi utama dalam platform merdeka mengajar yakni, membantu guru untuk membelajarkan, belajar dan berkarya. Sementara siswa lebih diberi kebebasan berkreasi dan berinovasi dalam waktu yang optimal.
Demikianlah sekilas pandangan penulis tentang kurikulum merdeka yang penulis baca di beberapa situs dan informasi dari beberapa teman. Meski teman dalam jenjang yang berbeda. Oleh karena itu, pada Lokakarya TP.2022-2023 ini. Di sekitar tempat tinggal penulis ada empat sekolah jenjang SMP yang sudah melaksanakan dalam rangka pendampingan Standar Proses Kurikulum Merdeka dengan Nara Sumbernya dari LPMP Provinsi Sumatera Barat. Sebagai guru penulis menilai dari standar proses hal itu adalah wajar karena sesuai dengan prinsip relevansinya pengembamgan kurikukum.
Selasa, 07 Juni 2022
#Tagur_26
#Gurusianer menulis _634
#Salam literasi
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan