Alina Said, S.Pd.

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Pergelutan dalam Hujan Deras

Seperempat jam berlalu, saat Riani telah sampai di kedai tempat penjualan bensi. Riani pun turun dan memberikan payung yang dipinjamnya pada Bapak yang punya kedai. Dengan mengucapkan salam Riani pun berucap.

" Assalamu'allaikum... Pak, ini payung yang saya pinjam tadi, terima kasih ya, Pak," ucap Riani pada Bapak yang punya kedai. Kala itu yang punya kedai sedang duduk di kursi.

" Ia, Neng...Motornya bisa hidup ya, Neng?" Bapak itu bertanya sambil meniup kepulan asap rokoknya yang membumbung tinggi. Lalu netranya melirik ke arah motor Riani yang kandarpotnya terlihat sudah menua. Riani dengan senyum sumringah menjawab pertanyaan Bapak itu.

" Ya, Pak memangnya kenapa Pak," Riani balik bertanya.

" Biasanya Neng, jika motor kena air hujan susah sekali hidupnya apalagi dalam keadaan bensinnya habis, " ujar Bapak itu. Riani kembali menjawab perkataan Bapak tersebut dengan nada yang bergetar. Bahkan wajahnya sudah terlihat pucat pasi.

" Alhamdullilah, motor saya tidak Pak...saya pamit dulu ya, Pak," ucapnya sembari menaiki motor. Sepertinya Riani tak mendengar perkataan Bapak itu.. Lalu Riani beranjak melangkahkan kakinya.

Tetiba, Bapak yang punya kedai melontarkan lagi pertanyaan padanya dengan rasa yang mengiba

" Masih, hujan Neng! ," tegasnya

" Tidak apa- apa Pak, saya juga sudah terlanjur basah, dan sepertinya langit tak akan berhenti menangis hingga sore hari.

Sekarang sudah pukul.14 WIB siang. Tapi saya masih di sini. Saya permisi, dulu...Pak ya.. Assalamua'allaikum," Riani menstater gas motornya. Satu menit kemudian tubuhnya pun lenyap pada penurunan di mana tempatnya membeli bensin tadi.

***

Pada cakrawala belum terlihat cahaya benderang, areanya masih terlihat sendu meneteskan air mata. Sebentar lagi mungkin langit barat akan membawa malam dan mentari akan tenggelam setelah itu. Riani turun dari motor untuk mengembalikan derigen yang dipinjam dengan kondisi tubuh yang sudah basah. Akibatnya, meninggalkan bercak air yang berserakan dari sepatunya. Riani fokus dengan ketergesaannya dan kembali menaiki motor. Ketika kakinya menuruni tangga . Tetiba guruh dilangit memuntahkan rongganya tubuh Riani jadi surut ke belakang. Ketika guruh suara itu tak terdengar lagi, barulah Riani turun tangga dan menaiki motornya kembali.

***

Namun, dalam keadaan dingin dan hujan yang masih turun. Tiba -tiba motor Riani tak bisa lagi berlari. Ia turun dan terhenyak duduk memandangi motornya yang telah lelah dan tak mau lagi bergerak. Ibu jarinya menekan kedua ban motor. Setelah Riani merasakannya, ternyata di ban motornya tidak ada masalah. Maka, terbersit dipikirannya untuk istirahat sejenak. Sambil menarik nafas dan memikirkan bagaimana motornya bisa hidup. Seharusmya perbekalan yang tergantung di motor itu sudah disantapnya di rumah. Namun, tak berapa lama kemudian. Tiba-tiba seseorang menegur Riani dari belakang terus menyapanya dengan tulus.

" Bagaimana Neng, motornya nggak mau hidup ya ? " ujar seorang Ibu. Karena melihat Riani sepertinya butuh pertolongan. Riani membalikkan tubuhnya.

" Iya Bu ," jawab Riani. Beberapa detik kemudian seorang Bapak juga keluar, sepertinya Bapak itu selesai membayar belanjaan yang dibelinya. Terdengar si Ibu menyuruh sang Bapak tersebut untuk membantu Riani.

" Bapak, bisa bantu Si Eneng ini Pak, motornya nggak bisa hidup. Sepertinya Ia tak bisa mengengkol motornya!" ucap si Ibu pada sang suaminya. Riani kini jadi termangu Ia bagaikan laksana didatangi malaikat berwujud manusia. Riani juga terkagum-kagum melihat kedua orangtua itu yang keakrabannya masih kentara, meski sudah di ambang senja. Bapak itu merengkuh motor Riani dan mengengkolnya dengan kencang-kencang. Sehingga motor itu keluar suaranya menderu-deru. Riani tarik nafas roman mukanya tampak lega. Kini cuaca sudah mereda saatnya Riani berlalu dari tempat ini.

Dengan seraya tersenyum Bapak tersebut berkata.

" Lain kali kalau menaruh motornya jangan dihujani ya, Neng cari tempat yang berteduh , kalau mesinnya basah susah hidupnya, sayang motor juga dibeli mahal," ujar Bapak itu. Riani terlihat mengangguk. Ia teringat perkataan Bapak yang tadi.

🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

Selasa, 08 November 2022

LiterasiKu

Menulis Hari Ke_764 di MGI

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post