Guru...?
Tantangan Hari ke-1773
#TantanganGurusiana-5
***
Setelah Bom Atom diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki pada masa Perang Dunia II, ada banyak korban jiwa. Namun satu hal yang tertulis indah dalam sejarah peradaban bangsa Jepang. Sang kaisar bertanya kepada panglima perang. Berapa orang guru yang masih hidup. Begitu pentingnya peran guru.
Memang tidak semua guru pada masa itu ikut mengangkat senjata, tapi mereka yang tidak terjun langsung di medan juang, tidak pernah berhenti mengajarkan anak muda untuk cinta tanah air dan bangsa. Mengajarkan semangat berani mati demi negara. Disanalah sang guru mengambil peran.
Itu dulu. Saat perjuangan kemerdekaan dan setelah perang kemerdekaan. Perlahan tapi pasti, peran itu entah sengaja atau pura-pura tidak tahu, guru menjadi strata terdendah dalam kehidupan masyarakat. Profesi guru dianggap tidak terlalu memberi sumbangsih sangat besar untuk kemajuan negeri ini.
Apakah mereka lupa, bahwa tokoh bangsa ini dilahirkan dari sosok pahlawan yang tidak mengangkat senjata. Tapi dari merekalah nilai-nilai kejuangan itu diajarkan. Jangan menutup mata terhadap banyaknya penindasan yang dilakukan terhadap guru. Ketidakberdayaan sang guru dalam menunaikan tugasnya dalam mendidik sangatlah berat.
Lembaga pendidikan formal, bukan hanya tempat mengajarkan ilmu pengetahuan. Tapi tempat menumbuhkembangkan akhlak mulia. Menanamkan nilai dan karakter yang baik kepada anak didik bukanlah pekerjaan mudah. Namun sangat disayangkan, karena peran sebagai pendidik ini pulalah yang membuat banyak guru tersandera.
Padahal sejatinya, orang tua harus bersinergi dengan sekolah dalam memgambil peran mendidik anak. Tugas utama mendidik bukan di sekolah, tapi didalam keluarga. Nilai-nilai yang ditanamkan dalam diri anak (pendidikan karakter), akan terlihat di sekolah. Anak yang "salah didik" di rumah, harus diperbaiki di sekolah. Itu memiliki resiko yang sangat berat dan rentan menempatkan guru sebagai pihak yang tersandera.
Sekarang boleh percaya boleh tidak. Apa yang terjadi dengan anak-anak kita di sekolah. Sudah banyak guru yang enggan dan tidak peduli lagi dengan penanaman nilai karakter kepada anak. Karena ada resiko yang akan terjadi, jika sang guru mengambil peran memperbaiki kesalahan pada diri siswa.
(Bersambung)
***
~~ Mendalo Mas, 231124 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
