Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Lagi-lagi Tentang Guru
Ilustrasi hambar: detik.com

Lagi-lagi Tentang Guru

Tantangan Hari ke-1772

#TantanganGurusiana-5

***

Jika kita ingat suasana sekolah masa lalu, maka akan terbayang bagaimana sosok guru. Setegas dan sekeras apapun seorang guru mendidik, belum pernah ada seorang guru yang dipenjara, atau yang dihadang di jalan oleh orang tua siswa. Begitu pula sang murid, tidak akan berani menceritakan hukuman yang diberikan oleh guru karena kesalahannya di sekolah.

Lalu mari kita palingkan muka kita dan melihat dari dekat dunia pendidikan negeri tercinta. Sebagai guru, saya membayangkan bagaimana dulu saat menjadi murid di sekolah. Ayah selalu datang pada hari pertama masuk sekolah. Lalu menitipkan pesan kepada pihak sekolah, biasanya langsung melalui Kepala Sekolah.

"Jika anak saya melanggar peraturan sekolah, tidak perlu repot-repot mengirimkan surat pemanggilan orang tua siswa, langsung saja keluarkan anak saya dari sekolah." Begitulah pesan indah Ayah kepada sekolah. "Namun sebaliknya, jika anak saya mendapat hukuman dari sekolah tanpa ada kesalahan yang dia lakukan, maka pihak sekolah juga harus siap mendapatkan aksi protes atas tindak main hakim sendiri terhadap anak." Dua hal ini, sebenarnya Ayah sedang mengajarkan pentingnya integritas.

Kondisi seperti ini sempat saya temukan. Saat mengajar di sebuah sekolah, saya didatangi orang tua siswa. Pesannya luar biasa. "Jika anak saya melanggar peraturan sekolah, silahkan Bapak beri sanksi dalam bentuk apapun terhadap anak saya. Yang penting jangan sampai cacat dan sisakan nyawanya untuk saya." Alhamdulillah, anak yang dititipkan memiliki karakter yang kuat. Akhlaknya dan rasa hormatnya terhadap guru sangat baik.

Bagaimana dengan kondisi terkini pendidikan kita. Guru menjadi "babak belur" saat berinteraksi dengan siswa yang bermasalah. Karakternya rendah, ditambah lagi kelakuan buruk tersebut juga mendapat dukungan dari keluarganya. Lalu bagaimana sebaiknya yang harus dilakukan oleh guru. Sayapun pernah berada pada posisi sulit tersebut.

Karena berdiri kokoh atas aturan, tidak mudah. Pertama harus siap mental, kedua siap sakit hati dan ketiga menjadi musuh bersama orang-orang yang berada di belakang siswa bermasalah tersebut, baik itu guru maupun kelompok orang tua siswa. Parahnya, ada guru yang menjadi korban ditangkap dan dipenjarakan, bahkan lebih parah lagi korban jiwa meninggal dunia. Kalau cacat fisik karena diserang orang tua siswa bukanlah hal aneh. Itulah kenapa potret buramnya pendidikan era sekarang bukan sekadar isapan jempol belaka.

(Bersambung)

 

 

 

***

~~ Mendalo Mas, 221124 ~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post