Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Selamanya Menjadi Guru
Ilustrasi gambar: Indozone life

Selamanya Menjadi Guru

Tantangan Hari ke-1774

#TantanganGurusiana-5

***

Mengapa semua guru selalu menyampaikan pesan kepada anak didiknya, jaga integritas, perkuat karakter, berhentilah menjadi anak nakal, serta berbagai pesan bijak lainnya yang seperti air mengalir tiada henti. Walaupun mungkin sang murid menganggap pesan itu tidak berarti dan tidak ada gunanya. Namun suatu saat nanti, pesan itu akan memukul mukanya sendiri, karena abai dengan pesan dan nasihat sang guru.

Hal yang sama sering saya lakukan. Sampai ada siswa yang melaporkan kepada orang tuanya, bahwa hampir setiap hari cerita yang sama saya sampaikan berulang-ulang. Sedikitpun saya tidak sakit hati, apalagi tersinggung mendengarkan cerita tersebut dari orang tua siswa yang lainnya. Karena pesan kebaikan itu tidak mengenal lelah. Sampai waktunya, sang pembawa pesan bosan sendiri atau hal lain yang menghentikannya.

Saat berada pada posisi sebagai murid dulu, saya sangat sering mendengarkan kisah yang sama dari sang guru. Ternyata apa yang dulu guru saya sampaikan di kelas, sekarang saya rasakan. Apa yang Ayah dan Emak di rumah sampaikan dulu, sekarang juga saya lihat dengan mata kepala sendiri. Itulah kenapa, pendidikan akhlak mulia, pendidikan karakter itu tidak bisa dibebankan kepada guru di sekolah. Karena sejatinya, guru yang pertama kali mengajarkan dan menyontohkan pendidikan karakter itu adalah kedua orang tuanya di rumah.

Jangan pernah berharap guru di sekolah bisa memperbaiki perilaku buruk anak kita, jika di rumah kepada mereka dipertontonkan perilaku tidak baik. Bukan hal mudah memperbaiki kerusakan yang sumber rusaknya dari lingkungan keluarga. Suka tidak suka, itulah yang kini terjadi. Apalagi sang kepala keluarga merasa punya jabatan dan kekuasaan, jangan harap bisa menerima kenakalan anaknya dipermasalahkan oleh sekolah. Hal yang sama pun sudah saya rasakan. Sampai dilaporkan kepada pejabat tinggi di daerah, bahkan sampai dalam forum rapat juga dibahas.

Sejenak mengingat kembali pesan guru-guru saya dulu saat masih sebagai murid. Andaikan tidak punya prestasi yang bisa membanggakan, minimal jangan melanggar peraturan sekolah. Agar suatu masa saat kamu berkunjung ke sekolah, guru-gurumu tidak menghitung dan menyebutkan ulang semua kesalahan dan kenakalan kamu saat sekolah.

Melalui pesan bijak itu pula, sampai sekarang saya tidak pernah menyebut mantan guru. Karena sampai kapanpun, guru saya tetaplah guru, walaupun sudah pensiun, tidak lagi mengajar di sekolah. Karena mereka Selamanya tetaplah menjadi guru. Jangan bangga dan sombong dengan apa yang hari ini kita capai. Karena ada jasa guru yang turut mengantarkan kita meraih sukses tersebut.

Bahkan, ada yang akhirnya memilih profesi yang sama dengan gurunya. Karena terinspirasi oleh kebaikan dan ketulusan sang guru. Walaupun jenjangnya berbeda. Bahkan ada yang sukses menjadi guru (dosen) di perguruan tinggi. Yang jelas, apapun itu profesinya, ada doa sang guru yang turut menyertai langkah sukses kita.

(Bersambung)

***

~~ Mendalo Mas, 241124 ~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post