Terima kasih Guruku
Tantangan Hari ke-1775
#TantanganGurusiana-5
(Edisi Spesial Hari Guru Nasional)
***
Saya belum lama menjadi guru dengan status sebagai PNS. Tepatnya lulus tes CPNS pada tahun 2000. Sebelumnya saya sempat merasakan sebagai guru honorer dengan penghasilan yang jauh dari kata layak. Tapi khusus hari ini, saya tidak membahas tentang penghasilan alias gaji yang dibayarkan kepada guru. Biarlah itu menjadi kisah yang takkan pernah terlupakan.
Sebelum menyelesaikan kuliah di perguruan tinggi keguruan, walaupun akhirnya saya tamat saat perguruan tinggi keguruan (IKIP) tersebut berubah menjadi Universitas. Saya sudah merasakan sebagai guru tanpa status. Loh kok tanpa status. Karena tahun 1998, saya datang ke sebuah sekolah di kawasan Kota Padang, tepatnya di Kecamatan Lubuk Begalung (Lubeg) dengan status sebagai Mahasiswa PPL.
Nah, jika selesai melaksanakan tugas PPL, biasanya para mahasiswa di jemput kembali oleh dosen pembimbing, sekaligus menghadiri acara pelepasan mahasiswa PPL oleh sekolah. Ternyata, pihak sekolah meminta izin kepada dosen koordinator PPL yang menjemput, agar saya masih diminta tinggal di sekolah, tentu saja mengajar layaknya guru sungguhan. Memangnya ada guru main-main alias pura-pura jadi guru?
Berangkat dari pengalaman berharga itu pula, semakin memantapkan hati memilih profesi sebagai guru. Padahal saat kelas 3 SMA, Buk Nur sang wali kelas pernah bertanya, apa cita-cita saya. Dengan santai saya jawab, yang penting bukan menjadi guru buk. Anehnya saat tamat, saya tidak mendaftarkan diri ke perguruan tinggi manapun, kecuali di kampus IKIP Padang. Mana pilihan jurusannya mengerikan lagi.
Singkat cerita, pengalaman dari semua guru saya, semenjak mengenyam pendidikan di bangku SD, SMP, SMA dan Fakultas MIPA UNP, sangat banyak sekali nasihat bijak dan petuah yang diberikan. Rasanya tidak bisa disebutkan satu per satu, saking banyaknya. Dari sekian banyak pesan dan nasihat tersebut, ada satu pesan yang relatif sama, jaga kejujuran, kuatkan iman, rajinlah berbuat baik. Kenapa untuk pesan ini, para guru saya bersepakat mengatakan, bahwa kedepan yang susah dicari itu bukan orang pintar (karena cukup minum tolak angin sudah langsung pintar). Yang makin langka dan susah dicari adalah orang jujur.
Sehebat apapun kamu, kalau tidak jujur tidak ada gunanya. Penghasilan yang kamu dapatkan dari cara yang kotor tidak akan menghasilkan generasi berikutnya yang baik, yang ada malah jadi tambah rusak. Jadi jika ingin sukses dan berkah, maka raihlah sesuatu dengan cara yang baik. Baik menurut agama (ini standar pasti dan tegas), baik pula menurut norma yang ada di tengah masyarakat.
Terima kasih banyak semua guruku. Baik guru di lembaga pendidikan formal, guru ngaji dan lain sebagainya. Berkat perjuanganmu, nasihat bijakmu yang terus disampaikan seperti air mengalir, tidak akan pernah saya lupakan. Khusus Bapak/Ibu guruku yang telah tiada, Insya Allah semua darmabaktimu semasa hidup, menjadi amal jariyah yang pahalanya terus menerus mengalir sampai yaumil akhir. Aamiin.
***
~~ Mendalo Mas, 251124 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
