Belajar dari Negeri Gajah Putih
Tantangan Hari ke-1797
#TantanganGurusiana-5
***
Masih terkait dengan kelanjutan kisah sebelumnya dengan judul "Kok Bisa Beda ya!" terkait mengikuti kegiatan Asean Astronomy Camp (AAC) di Chiang Mai Thailand. Bukan karena "kepo" apalagi "kepop" ya jelas berbedalah. Ini lebih karena rasa ingin tahu yang sangat tinggi, atau karena dulu pernah belajar ilmu "intelijen" ala-ala anak muda yang aktif di organisasi ekstra kampus.
Melihat perilaku siswa yang dari Thailand kepada gurunya, lalu saya bandingkan dengan berbagai kisah yang sedang spiral (eh salah, maksudnya viral) di negeri sebelah. Terkait penghormatan kepada gurunya sungguh luar biasa. Siswa memperlakukan gurunya dengan sangat terhormat. Apapun kondisi gurunya, mereka dihormati layaknya seorang tokoh agama. Sebagai mana siswa memperlakukan pemimpin agamanya, seperti itu pula siswa memperlakukan gurunya.
Selama kegiatan, bukan pelajar dari Thailand yang menjadi perhatian saya, tapi juga pelajar dari kontingen Vietnam, Myanmar dan Lao PDR. Pengormatan mereka kepada gurunya sungguh luar biasa. Jadi berbanding terbalik dengan kondisi negeri tetangganya. Perilaku buruk siswa sangat susah diperbaiki, karena akan berhadapan dengan orang tuanya. Berbeda pula dengan negeri sebelahnya lagi. Penghormatan orang tua siswa kepada gurunya juga sangat baik.
Perlu kearifan semua pihak melihat berbagai fenomena yang kini sedang terjadi didalam dunia pendidikan di negeri ini. Jika terus menerus terjadi, maka jangan berharap banyak akan bisa memperbaiki karakter buruk siswa menuju arah yang lebih baik. Karena ada dukungan dari orang tuanya. Membela perilaku buruk anak, akan merugikan dirinya sendiri kedepan. Jangan salahkan lembaga pendidikan, manakala banyak guru di sekolah mengambil jalan aman dan tidak peduli dengan perilaku buruk siswanya.
Seperti yang sering disampaikan kepada siswa, jika akhlak dan adab kamu sangat baik, guru tidak mendapatkan keuntungan apapun, begitu juga sebaliknya jika perilaku siswanya buruk, sedikitpun tidak ada kerugian akan diderita oleh guru. Jangan tanya bagaimana lelahnya seorang guru mendidik akhlak dan adab kepada siswanya.
Manakala apa yang dilakulan oleh guru mendapatkan sambutan dan dukungan dari orang tua, maka lelah itu seolah hilang sirna. Namun saat mendapatkan perlawanan, bukan hanya lelah tapi juga "jengah" dengan apa yang terjadi. Karena pendidikan adab dan akhlak pertama kali ditumbuhkan didalam lingkungan keluarga, bukan di sekolah.
Mari kita belajar dari pola penghormatan siswa kepada gurunya di negeri gajah putih. Karena belajar dari Jepang terlalu jauh, walaupun sangat dekat dibawah kaki kita (sendal Jepang). Kalau menilik bagaimana penghormatan siswa dan semua warga negara Jepang terhadap profesi guru. Sangat jauuuh sekali. Jepang ibarat siang terang benderang kita seperti tengah malam yang gelap gulita.
***
~~ Mendalo Mas, 171224 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
