Keseruan itu Selalu Ada
Tantangan Hari ke-1796
#TantanganGurusiana-5
***
Setelah pelaksanaan ujian semester ganjil, walaupun sekarang sudah berganti nama (karena memang negeri sebelah itu suka gonta-ganti nama, padahal tujuan dan esensinya sama, walaupun berusaha membuat seolah berbeda), tapi tetap saja Desember memiliki keseruan yang penuh makna.
Guru yang kata sebagian dan bahkan banyak orang pekerjaannya lebih banyak santainya, maka yang mengatakan pekerjaan guru itu santai, maka sekaranglah saatnya, mereka kita minta menggantikan peran guru. Tidak perlu sampai satu bulan, cukup selama pengolahan nilai ujian saja sampai penyerahan Rapor. Kira-kira setelah itu mereka akan tetap "ngoceh" receh bahwa guru itu banyak santainya atau akhirnya stres sendiri.
Belum lagi pusing mengolah nilai siswa yang tidak jelas, ulangan harian yang alakadarnya, ulangan tengah semester yang mengkhawatirkan, ditutup dengan hasil ujian akhir semester yang mengerikan. Bukan karena kesalahan guru, tapi tingkat partisipasi anak yang memang rendah. Apakah ini karena efek "merdeka" itu ya, setiap anak tidak boleh tinggal kelas "katanya," kemudian setiap anak jangan dinilai sama dengan temannya yang lain, itulah mengapa perlu mengajarkan siswa dengan prinsip berdiferensiasi, atau apalah alasan untuk membenarkan bahwa tidak boleh ada siswa yang nilainya rendah, apalagi nantinya sampai tidak naik kelas.
Sebagai guru, tentu saja kegiatan ini sangat berat. Karena ada pertarungan bathin yang tidak ringan. Menjaga integritas lalu di musuhi oleh petinggi sekolah dan siswa, atau mengambil jalan pintas mengatur skor nilai siswa. Saya kira, hampir bisa dipastikan langkah yang kedua menjadi pilihan aman. Bukan lagi terkait bagaimana siswa menyelesaikan tugas. Andaikan diminta siswa melakukan remedial, seyogyanya memberikan kesempatan mereka belajar ulang dan lebih paham materi yang sudah dipelajari.
Lucunya, kertas yang menumpuk di meja sang guru, kecanggihannya mengalahkan mesin foto copy. Jika mesin foto copy semua jenis huruf serta ukurannya pasti 100% sama, hanya warna hurufnya yang berbeda (jika ada yang cetak warna). Nah dimana letak kecanggihan jawaban siswa? Jenis huruf berbeda, ukuran huruf berbeda, jangan ditanya warna dan berbagai asesoris yang mengiringinya. Tapi jawabannya 100% sama. Hebat kan!.
Saya lebih mementingkan menunaikan perjanjian saat awal tahun pelajaran. Saya hanya meminta siswa untuk memperbaiki karakter akhlak mulianya saja, tidak perlu bersusah-susah memikirkan bagaimana hasil ujian dan nilai rapor yang akan mereka raih. Apapun hasilnya, minimal batas KKM (sekarang namanya juga ganti dengan nama yang baru, yang katanya lebih keren). Dengan membuat perjanjian di awal tahun pelajaran, saya cukup melihat perkembangan akhlak siswa.
Tidak ada gunanya nilai bagus, tapi akhlaknya buruk. Sekarang negeri ini bukan kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang yang berakhlak, orang yang berintegritas. Sehebat apapun seseorang, manakala adabnya rendah, maka orang tersebut tidak ada gunanya. Hanya merusak tatanan hidup bermasyarakat. Sembari memperlihatkan bukti nyata didepan siswa. Dengan demikian, akan lebih mudah mengelola nilai yang memusingkan kepala sang guru, tidak jarang sampai ada yang terpaksa mengonsumsi bodrex atau sejenisnya, guna meringankan beban pusing di kepalanya.
Ternyata, setiap selesai pelaksanaan ujian semester, baik semester ganjil maupun genap, selalu ada keseruan. Apalagi saat kenaikan kelas. Uhuuuu. Disanalah pertarungan antara Haq dan Bathil kental terasa. Tidak salah memang, istilah hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Ada banyak kasus anak pejabat dengan kekuatan dan kekuasaannya bisa mengintervensi sekolah terkait anaknya. Lalu duduk meranalah anak orang biasa-biasa, atau kalau boleh menggunakan istilah jubirnya pejabat negeri konoha, "Rakyat Jelata." Kurang seru apa tuh. Merdeka.
***
~~ Mendalo Mas, 161224 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
