Liburan? Hayuu Atuh
Tantangan Hari ke-1800
#TantanganGurusiana-5
***
Setelah proses penyerahan laporan hasil belajar (LHB) siswa, menandakan bahwa tugas seorang guru selama satu semester telah usai. Walaupun proses penyelesaiannya penuh drama. Kadang bahkan tidak jarang drama tersebut berurai air mata.
Bagaimana tidak, sudah berjuang mati-matian bertahan menjaga integritas, tapi dikalahkan oleh rasa sayang yang mendalam kepada sang siswa. Walaupun nilai harian, tengah semester dan semesternya menyedihkan, tapi tetap saja yang muncul didalam rapor anak tertulis tuntas minimal sesuai batas KKM alias KKTP.
Selain suasana Desember yang berawan dan sedikit ditemani dengan gerimis, tapi euforia siswa dengan nilainya yang luar biasa, membuat sang guru mungkin mengelus dadanya yang tidak sakit. Entah seperti apa pertarungan bathin sang guru saat membuat rentang nilai, agar semua anaknya terbantu dengan cara adil dan bijaksana, sesuai sila yang kedua dan kelima, Kemanusiaan yang adil dan beradab serta Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Eh apa hubungannya? Tentu saja dengan menggunakan ilmu cocokologi, semuanya bisa dicocok-cocokkan sesuai dengan azas kepentingan.
Begitu semua buku rapor selesai dibagikan, biasanya ada yang melakukan aksi foto bersama antara wali kelas dengan orang tua siswa, ada juga foto bersama dengan petinggi sekolah, tapi sedikit yang ingat, bahwa nilai itu bukan karya wali kelas. Ada banyak guru yang telah mengorbankan perasaannya demi deretan nilai didalam buku rapor tersebut terlihat dengan indah dan penuh senyuman.
Bukan karena ingin mendapatkan ucapan terima kasih, apalagi bingkisan, amit-amit jabang bayi deh. Harusnya kepada semua orang tua siswa disampaikan (tentu saja oleh wali kelas), agar jangan terlalui jumawa melihat barisan nilai rapor yang keren. Agar mereka (orang tua dan anak) tidak terjebak. Seolah anaknya benar-benar sudah menguasai materi yang diajarkan oleh guru. Tapi hanya karena keajaiban hati sang gurulah, barisan nilai tersebut tertata dengan indah.
Nah, karena semua perhelatan di sekolah sudah usai, harusnya kegiatan sang guru berikutnya adalah menikmati suasana liburan yang indah bersama keluarga. Namun sangat disayangkan, tidak semua guru di sekolah tertentu yang bisa menikmatinya. Karena ada kegiatan work shop (bukan kerjaannya belanja alias work dan shop), tapi harus tetap hadir di sekolah dalam rangka kegiatan pelatihan.
Entah apa yang ada dalam pikiran orang yang masih mengadakan pelatihan disaat sang guru harus rehat sejenak dari lelahnya otak yang memikirkan bagaimana nilai 22,5 menjadi 75 dan lain sebagainya. Berilah kesempatan otak sang guru sejenak melupakan rusuh hatinya dalam perang integritas melawan rasa sayang. Jangan bebani lagi dengan pelatihan. Bukan itu tidak penting, tapi ada yang jauh lebih penting dari pelatihan tersebut.
Liburan? Ah, bagi guru itu hanya mitos. Andaikan tidak ada kegiatan di sekolah, tapi guru masih harus setiap hari ke sekolah untuk "absen online," atau tidak datang lalu mendapatkan ancaman tidak dibayarkan tunjangan kinerjanya. Begitulah yang sering terjadi dan dialami oleh banyak guru.
Selamat menikmati liburan akhir tahun alias libur semester ganjil selama satu tahun (2024 sampai 2025). Jarang-jarang lo liburannya setahun. Apalagi tanpa ada halangan dan rintangan. Sukses untuk semua guru di negeri ini. Apapun yang terjadi, tetaplah bangga dengan profesi yang mulia ini.
Liburan? Hayuu atuh.
***
~~ Mendalo Mas, 201224 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
