Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Pentingnya Adab, Baru Ilmu (Bagian 5)
Ilustrasi gambar: lpm dinamika

Pentingnya Adab, Baru Ilmu (Bagian 5)

Tantangan Hari ke-1790

#TantanganGurusiana-5

***

Mendidik dan mengajarkan adab dan akhlak mulia kepada anak-anak di sekolah bukanlah pekerjaan sederhana. Berbagai kendala akan dirasakan dan dialami oleh guru. Jangan ditanya resiko yang akan dihadapi, manakala ternyata apa yang dilakukan oleh guru mendapatkan perlawanan dari orang tuanya.

Mengambil tindakan atas pelanggaran yang dilakukan oleh anak, tidak bertujuan untuk menyiksa dan memberikan label jelek terhadap yang bersangkutan. Masalahnya akan menjadi melebar kemana-kemana seperti air bah, manakala mendapatkan perlawanan dari anak dan didukung oleh keluarganya. Biasanya kejadian seperti ini, jamak terjadi pada anak yang orang tuanya, ataupun anggota keluarganya memiliki jabatan. Apalagi jabatan tersebut bersinggungan dengan penegak hukum. Terbayang sudah seperti apa perlawanannya.

Kegaduhan pasti mengiringi proses penyelesaian kasus pelanggaran disiplin, pelanggaran aturan sekolah. Biasanya pelaku juga memiliki adab dan akhlak yang kurang baik. Jadi tidak tepat jika kesalahan tersebut ditimpakan kepada guru dan sekolah. Karena ternyata, dari kasus yang terjadi bisa diambil kesimpulan sementara, bahwa anak tersebut juga tidak mendapatkan pendidikan adab dan akhlak yang baik di rumah.

Pernah satu waktu ada kejadian seru. Saya bukan pejabat di sekolah. Pembina Osis bukan, wakil kepala sekolah tidak, kepala sekolah apalagi. Tiba-tiba rumah dinas saya didatangi oleh dua orang tua siswa. Mereka tidak terima anaknya mendapatkan sanksi skorsing dari sekolah, karena melakukan pelanggaran yang tidak ringan. Entah mengapa, rumah saya yang mereka pilih. Sangat bisa jadi, semua rumah yang saya sebutkan jenis dan jenjang jabatannya di atas tidak membuka pintu rumahnya untuk kedua orang tua tersebut.

Sebagai tuan rumah yang baik, tentu saja saya sambut dengan hangat serta meminta sang istri menyuguhkan minuman teh hangat alakadarnya. Setelah minuman terhidang, lalu saya dengarkan semua celoteh kedua orang tua siswa tersebut. Mulai dari A sampai Z, sampai ke amerika sana yang mereka bicarakan. Lalu satu kalimat yang saya dengar dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Katanya begini, kalau memang sekolah mengatakan anak saya nakal dan rusak akhlaknya, mending saya pindahkan saja anak saya dari sekolah ini dan saya masukkan ke pondok pesantren saja. Padahal anak saya itu anak baik. Saya hanya membalas dengan kalimat sederhana pula, ibarat berbalas pantun. Jadi jawaban saya itu begono bukan begini.

Kalau anak ibuk memang dasarnya sudah nakal, mau di sekolah dimanapun, tetap saja akan nakal. Karena pendidikan akhlak itu mulainya dari rumah, bukan di sekolah. Tidak mungkin anak yang benar-benar baik didikan akhlaknya di rumah, lalu di sekolah menjadi anak nakal dan bermasalah. Jangan salahkan sekolahnya dimana. Tapi koreksi dulu, bagaimana anaknya diajarkan di rumah.

Bagaimana reaksi kedua orang tua siswa tersebut setelah mendapatkan siraman rohani dari guru paling jahat dan kejam di sekolah tersebut?

(Bersambung)

***

~~ Mendalo Mas, 101224 ~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post