Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Belajar dari Negeri Gajah Putih (lanjutan)
Ilustrasi gambar: Dokumen Pribadi

Belajar dari Negeri Gajah Putih (lanjutan)

Tantangan Hari ke-1827

#TantanganGurusiana-6

***

Melihat banyaknya kasus pelanggaran yang dilakukan oleh pelajar di negeri konoha, jadi teringat masa-masa mendampingi siswa dalam sebuah kegiatan tingkat ASEAN di Chiang Mai, Thailand. Durasi waktunya tidak terlalu lama, lebih kurang 5 hari efektif, pada tahun 2016-2018. Kita berangkat dengan biaya sendiri. Artinya pihak panitia tidak menyediakan tiket penerbangan dari negara masing-masing.

Namun demikian, tingkat antusias peserta setiap negara anggota ASEAN (minus Brunai dan Singapura), sangat tinggi. Sehingga pihak penyelenggara, NARIT (National Astronomy Research Institute of Thailand), melakukan seleksi dengan ketat. Sehingga siswa yang dapat mengikuti kegiatan ini sudah bisa dipastikan sangat menyintai dan menyukai Astronomi dan segala bentuk kegiatan lainnya yang masih terkait dengan bidang tersebut.

Nah, kembali kepada tema yang ingin disampaikan. Bahwa saat berada di Chiang Mai, saya sangat memperhatikan bagaimana interaksi antara siswa di sana dengan gurunya. Sangat akrab dan dekat, tapi tetap saja mereka menaruh rasa hormat kepada gurunya sungguh luar biasa. Lalu saya bertanya kepada beberapa pelatih dan pendamping mereka. Tentu saja dengan bahasa Inggris yang pas-pasan (pas mau ngomong pas bingung, hehe). Di sini, siswa menempatkan guru persis seperti hubungan mereka dengan pembimbing agamanya (bhiksu atau sejenisnya).

Pesan dan nasihat yang disampaikan oleh guru, sama tingginya seperti pesan yang disampaikan oleh pembimbing spritual. Begitu besar penghormatan siswa kepada gurunya. Apakah tidak ada pelanggaran? Tentu saja ada. Tapi tidak separah dan semengerinya kelakuan siswa di negeri konoha. Terkait hal-hal yang sifatnya pribadi (privasi), memang tidak menjadi urusan sekolah. Karena siswa juga tidak akan melakukannya di sekolah.

Saya membayangkan suasana tersebut juga terjadi di negeri konoha. Memang, di beberapa daerah, ada kelakuan siswa terhadap gurunya sangat baik. Tidak ada premanisme, vandalisme dan hal buruk lainnya yang dilakukan oleh siswa. Tapi jumlahnya tidak banyak. Ibarat kata, seperti melihat tungau diseberang lautan. Walaupun diamati dengan kaca pembesar dan mungkin dengan Teleskop, tetap saja tidak terlihat.

Saya tidak pesimis melihat kasus dan kisah di atas. Kita bisa melakukannya dengan baik. Tapi ada syaratnya. Sekolah dan orang tua siswa, benar-benar bekerja sama dengan baik dalam menegakkan aturan sekolah. Tidak ada yang menggunakan jabatannya untuk menekan pihak sekolah, karena pelanggaran disiplin dan aturan sekolah yang dilakukan oleh anaknya. Jika ini terjadi dan terselenggara dengan baik, bisa dipastikan proses penanaman nilai karakter akhlak mulia juga akan berlangsung dengan baik.

(Bersambung)

***

~~ Mendalo Mas, 170125 ~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post