Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Filosofi Rumah Makan Padang
Ilustrasi gambar: Dokumen Pribadi

Filosofi Rumah Makan Padang

Tantangan Hari ke-1820

#TantanganGurusiana-5

***

"Jika anda puas, silahkan sampaikan ke banyak orang. Tapi jika ada yang kurang, sampaikan kepada kami." Slogan ini biasanya sangat mudah kita temukan di dinding Rumah Makan Khas Minangkabau. Ada kemiripan dengan petuah orang tua zaman dulu di Ranah Minang, yang sampai sekarang masih berlaku. Tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan.

Kaba baiak bahimbauan, kaba buruak bahambuan. Kalau dalam bahasa Indonesia, terjemahannya lebih kurang " Kabar baik disampaikan kepada khalayak ramai, kabar buruk tidakpun disampaikan, orang akan berhamburan menuju tempat yang sedang kena musibah." Begitulah keluhuran budi dan kekuatan dari persatuan antar warga pada masa itu.

Akan tetapi, yang ingin saya sampaikan, yang tentu saja sangat bisa jadi luput dari perhatian kita semua. Pernah diamati dan sering dinikmati, tapi tidak banyak yang mengetahui kedalaman dan keluhuran makna yang terkandung didalamnya.

Kita sering menikmati kelezatan semua jenis makanan dan masakan khas Minang Kabau, seperti rendang, serta berbagai bentuk kuliner lainnya di nagari yang mengedepankan Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS, SBK) ini. Tapi adakah diantara kita yang merasakan dan mengetahuinya. Saat kita makan di rumah makan. Baik dihidangkan maupun dalam bentuk nasi ramas alias nasi dan lauk tercampur dalam satu piring yang sama.

Pernahkan kita membandingkan volume makanan yang disajikan saat makan ditempat dan saat dibungkus. Nah, inilah keseruannya. Jika kita makan ditempat, biasanya porsi yang disajikan sepertinya benar-benar pas dan kadang juga dengan porsi yang sedikit lebih banyak dibandingkan dengan rumah makan. Lalu kenapa porsinya menjadi jauh lebih banyak saat di bungkus.

Ternyata, nasi Padang (walaupun di Padang sendiri tidak ada rumah makan padang) saat dibungkus, maka porsi yang dimasukkan dalam kemasan (khasnya dalam daun pisang), jumlahnya jauh lebih banyak dari porsi makan di tempat. Dari berbagai literatur yang saya dapatkan, porsi nasi bungkus menjadi berbeda dengan porsi makan ditempat, dikarenakan bahwa sang pemilik rumah makan memang sengaja melakukannya. Karena ada niat baik dari pemilik rumah makan untuk berbagi, sehingga bisa dinikmati oleh banyak orang.

Orang yang membeli nasi bungkus, sangat bisa jadi sesampainya mereka di rumah, nasi bungkus tersebut tidak hanya dinikmati oleh satu orang saja. Tapi bisa juga dicicip oleh orang lain. Artinya, jika makan ditempat untuk tiga orang, maka dengan nasi bungkus, cukup membeli dua bungkus saja, maka porsinya tetap cukup dan bahkan berlebih jika dimakan oleh orang bertiga.

Selamat mencoba trik ini. Jika anda memiliki jumlah uang yang terbatas untuk makan siang, maka datanglah ke rumah makan padang, lalu beli nasi bungkus secukupnya, maka dengan jumlah tersebut bisa dipastikan sangat cukup untuk sejumlah orang yang dijelaskan di atas tadi.

Begitu mulianya sosok sang "tokoh" rumah makan Padang tersebut, yang telah menginisiasi dan mengajarkan kebaikan, sehingga sampai hari ini, tanpa sadar tradisi tersebut masih lestari.

***

~~ Kota Padang, 090125 ~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post