Jangan Katakan 'Tidak?'
Tantangan Hari ke-1820
#TantanganGurusiana-5
***
Dari berbagai cerita tentang parenting, ada kata-kata yang tidak boleh diucapkan kepada anak-anak. Kata tersebut adalah "tidak." Saya pribadi juga bingung, tapi tidak sampai membuat saya jungkir balik karenanya, cukup senyum (tapi bukan senyam senyum sendiri di pinggir jalan), tapi senyuman itu harus memberi manfaat. Sehingga bisa dinikmati dengan tulus ikhlas pula oleh orang lain.
Nah kata "tidak" ini, konon kabarnya bila diucapkan kepada anak, akan mengganggu kejiwaannya atau apalah namanya. Yang jelas, kata tersebut sangat tidak dianjurkan. Lah dalam dua paragraf ini saja, sudah berapa kata tidak saya tuliskan.
Sebenarnya, saya ingin mengajak yang mau saja. Untuk kembali merefleksikan bagaimana dulu, orang tua kita mendidik anak-anaknya. Bukan hanya kata tidak yang diucapkan manakala anak-anaknya melakukan kesalahan. Apalagi jika kesalahan itu sangat fatal. Sekarang? Mengatakan tidak, tidak boleh alias sangat dilarang, apalagi dengan suara yang cukup keras (bukan sangat keras seperti petir dan halilintar yang menyamnar ya).
Dulu (duluuuu banget), manakala saya melakukan kesalahan, misalnya terlambat shalat, apalagi sampai meninggalkan shalat, maka sudah terbayang bagaimana sanksi berat yang akan saya terima. Apakah memori otak saya menjadi terganggu? Atau emosi dan kejiwaan saya menjadi rusak? Sepertinya tidak. Justru kita menjadi sadar dan tahu, bahwa kita sudah melakukan kesalahan yang tidak hanya merugikaan diri sendiri, tapi juga orang lain.
Lalu esensi larangan mengatakan tidak itu dalam rangka apa? Saya justru khawatir, anak yang tidak pernah dikenalkan dengan kata "tidak" atau tidak pernah dilarang karena satu kesalahan, khawatir nanti kejiwaannya terganggu, takutnya malah anak dan kedua orang tuanya sekaligus yang akan terganggu kejiwaannya.
Bagi rekan yang beragama Islam, coba buka kembali AlQuran. Berapa banyak kata "la" di dalam AlQuran, lalu terkait apa saja kata tidak tersebut ditujukan. Itu artinya, kata tidak itu memerlukan penenakan dan bahkan lebih tegas, agar kita menyadari bahwa sebuah pelanggaran, apalagi terhadap ketentuan agama, adalah sebuah kesalahan dan harus serta wajib dihindari.
Jika amal kebaikan belum mampu kita lakukan, maka ada anjuran untuk melakukannya dari hal yang kecil. Tapi terkait larangan, tidak ada kata tawar menawar. Boleh melakukanny tapi sedikit. Sama sekali tidak ada anjuran untuk melakukannya dari hal kecil. Semua yang bersifat larangan, maka hukumnya wajib dihindari. Kurang tegas apa lagi ketentuan agama tersebut. Lalu masih berani kita mengajarkan untuk jangan mengatakan "tidak" kepada anak. Demi masa depannya yang lebih baik? Aduh, ferguso. Jangan sesatkan anak kita untuk hal yang nanti akan membuat kita sendiri rugi, apalagi saat dimintakan pertanggungjawabannya di pengadilan akhirat. Percayalah, manakala kita mengatakan tidak, itu adalah untuk menjaga keselamatan anak kita, kenapa ada kata tidak.
Saya tidak akan pernah menuruti ajaran larangan mengatakan tidak kepada anak. Itu urusan saya, bukan urusannya para pegiat yang menamakan apalah kelompoknya. Karena saya lebih tahu apa yang terbaik untuk anak, bukan mereka yang memiliki paham jangan katakan tidak tadi.
Yakinlah, anak yang tidak diajarkan dengan hal yang baik, juga mengajarkannya apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh, maka ia menjadi paham kenapa ia dilarang melakukan sesuatu. Itu bukan keinginan orang tuanya, tapi anjuran dan ajaran agama yang mengajarkannya. Tidak perlu ada perdebatan terkait cara mendidik anak. Agama dan kepercayaan yang saya anut, serta apa yang selama ini diajarkan oleh kedua orang tua terdahulu kepada saya, maka panduan tersebut juga saya lakukan dengan cara yang sama kepada anak.
Selamat mencoba dan selamat berbeda pendapat atas kisah di atas. Tidak ada larangan untuk berbeda pemahaman, orang berbeda pendapatan saja boleh. Toh nanti potongan pajaknya tetap sama. Ups. Maaf, keceplosan.
***
~~ Kota Padang, 100125 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
