Catatan Indah Perjalanan ke Chiang Mai (Bagian 2)
Tantangan Hari ke-1888
#TantanganGurusiana-6
***
Tepat jam 11.45 pesawat mendarat dengan sempurna di Bandara Internasional Chiang Mai, dengan kode bandara CNX. Disambut dengan hembusan angin serta panas terik Matahari. Anehnya, tidak membuat tubuh berkeringat. Teriknya Matahari, tapi suhunya masih tetap lebih rendah dari suhu di Indonesia. Bagi yang baru pertama kali datang, merasakan hal yang aneh. Sinar Matahari yang terang benderang, menandakan tidak ada kabut dan awan tebal di langit, tapi tidak membuat gerah.
Kita memesankan Taxi Bandara dengan harga relatif masih sangat terjangkau. Hanya THB250. Kalau di rupiahkan dengan kurs 1 THB: Rp. 500, maka bisa dibayangkan berapa ongkos Taxi untuk sampai ke Hotel Transit untuk kegiatan pertama AAC 2025. Masih jauh lebih murah dari Ongkos Taxi di negeri sebelah. Saat masuk ke dalam mobil, ternyata pak Sopirnya sedikit koboy.
Beliau sangat ramah, tapi gaya nyetir mobilnya itu mirip pembalap. Saya meminta tolong kepada beliau, mengantarkan saya ke tempat pembuatan Kacamata yang bisa ditunggu dalam waktu cepat. Karena siswa saya ketinggalan Kacamatanya di Jambi. Saya hanya diminta menambahkan ongkos Taxi, yang sebelumnya THB250 menjadi THB400.
Bagi saya ini adalah sesuatu yang spesial. Beliau mengantarkan kita sampai ke toko, di salah satu Mal yang dekat dari bandara dan dengan harganya yang tidak terlalu mahal, lebih kurang sama dengan di negeri sebelah. Berbeda pula dengan negeri sebelah, kalau ada orang asing yang lagi kesusahan, maka banyak juga yang menawarkan diri, tapi sekaligus mendapatkan keuntungan dari kesedihan tamu orang asing tersebut. Tapi tidak dengan di Chiang Mai. Beliau malah asyik dan berceloteh seolah kita sudah lama bertemu dan saling mengenal.
Usai membuat Kacamata (Minus 4) di sebuah Mal, Pak Sopir langsung bergerak menuju parkiran, dimana kendaraan yang mengantarkan kami menuju Hotel Ibis Styles Chiang Mai. Ternyata di ruang tunggu hotel, sudah hadir beberapa peserta, salah seorang peserta berasal dari Bangladesh dan satu orang dari Jepang.
Sungguh kegiatan yang luar biasa kerennya. Kalau soal perbedaan bahasa jangan ditanya. Karena terbiasa mendengar US Inggris di negeri sebelah, lalu mendengarkan celotehan peserta yang mayoritas menggunakan British English, tentu saja ada rasa yang agak berbeda. Apalagi dengan kondisi bahasa Inggris saya yang pas-pasan (pas mau ngomong, pas nggak bisa). Atau sebaliknya pas mau jawab, pas nggak ngerti.
Karena untuk konsumsi masih belum ditanggung oleh panitia, sehingga makan malam kita terpaksa harus menjajal jalanan Chiang Mai bersama Ojek online. Tempat yang kita pilih adalah Sanjan Indonesia. Ternyata ownernya adalah orang Jakarta. Beliau sudah menetap di Chiang Mai sudah 13 tahun. Rata-rata wisatawan atau orang Indonesia yang sedang ada projek kantornya di Chiang Mai, biasanya datang ke Cafe beliau.
Banyak hal yang kita ceritakan, sampai akhirnya selesai menikmati hidangan ala Indonesia di Chiang Mai. Soal harga, tidak perlu resah, karena masih sangat terjangkau oleh dompet kita yang tipis klimis. Apalagi karena porsinya jumbo, sehingga tidak sanggup dihabiskan di tempat. Asyik dan serunya, makanan tersebut bisa dibungkus untuk selanjutnya dibawa pulang.
(Bersambung)
***
~~ Kuala Lumpur, 170325 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
