Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Selalu Ada Cerita Bersama Mereka (Edisi Ramadhan)
Ilustrasi gambar: Dokumen Pribadi

Selalu Ada Cerita Bersama Mereka (Edisi Ramadhan)

Tantangan Hari ke-1873

#TantanganGurusiana-6

***

Kehadiran Ramadhan, bagi sebagian orang lebih pada rutinitas tahunan, menunaikan ibadah puasa serta memperbanyak amal ibadah. Tapi tidak bagi kelompok anak-anak yang tinggal di sekolah berasrama. Kehadiran bulan Ramadhan, awalnya mereka rasakan sebagai beban dan tentu saja berat untuk ditunaikan dalam kondisi tinggal di asrama.

Keluhan mereka sangat wajar dan mereka juga masih usia yang harusnya lebih banyak tinggal bersama keluarganya. Kebiasaan melaksanakan ibadah puasa ditengah keluarga, tentu saja sangat jauh berbeda saat tinggal di asrama. Sebut saja menu makan sahur, buka puasa dan lain sebagainya. Ini sudah pasti berbeda dengan di rumah bersama keluarga.

Saat mengisi kajian Ramadhan di Masjid, juga saat Ceramah Ramadhan menjelang berbuka puasa di ruang makan, saya sering menyampaikan bahwa perbedaan menunaikan ibadah puasa di rumah dan di sekolah berasrama, suatu saat nanti akan mereka rindukan. Bukan hanya bagaimana mereka berhadapan dengan berbagai perilaku temannya, menu yang harus mereka nikmati saat berbuka dan sahur. Semuanya menjadi ciri yang kuat di sekolah berasrama.

Waktu tiga minggu di sekolah, bukanlah hal mudah. Kerinduan mereka dengan menu di rumah adalah hal yang wajar. Apalagi siswa yang rata-rata dari keluarga kelas menengah ke atas. Dengan kita sebagai gurunya saja kalah kelas, jika ditanya menu sehari-hari di rumah. Jangankan dengan menu mereka di rumah, menu makan mereka di asrama saja, jauh lebih baik dari menu sehari-hari di rumah.

Lalu mereka bertanya, "kalau menu di sekolah ini enak, kenapa Ayah nggak ikut gabung makan bersama kami di ruang makan?" tanya salah satu dari anak-anak yang sering berkumpul bersama di rumah.

"Nah, kalau soal menunya jelas jauh lebih baik dari menu makanan Ayah di rumah, hanya saja jika ditanya enak, tentu saja masakan Ibu di rumah tetap lebih enak, walaupun tidak semewah menu kalian di ruang makan," tegas saya kepada mereka.

Malahan ada beberapa anak, jika mereka selesai makan di ruang makan, masih datang ke rumah numpang makan. Katanya dibelakang di ruang makan, masakannya tidak enak. Padahal lauknya jauh diatas rata-rata makanan saya di rumah. Saya memahaminya dengan sederhana. Mereka hanya rindu dengan masakan di rumah. Jadi sebagai obatnya adalah makan di rumah Ayahnya.

(Bersambung)

***

~~ Mendalo Mas, 020325 ~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post