Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Ketika Pungguk tak lagi Merindukan Bulan
Ilustrasi gambar: Dokumen Pribadi

Ketika Pungguk tak lagi Merindukan Bulan

Tantangan Hari ke-1909

#TantanganGurusiana-6

***

Menilik perkembangan dan kemajuan teknologi, banyak hal yang menjadi perhatian (itupun jika memang masih peduli). Kemajuan teknologi, apabila tidak dibarengi dengan penguatan karakter, maka bersiaplah menghadapi generasi penerus yang akan membahayakan dirinya dimasa depan.

Sangat banyak yang mengirimkan kisah sang maestro IT, yang memiliki perusahaan perangkat lunak yang bernama Microsoft. Anaknya justru tidak memegang perangkat teknologi canggih yang dihasilkan oleh perusahaan bapaknya. Tapi bermain tanah, pasir dan sejenisnya. Permainan sederhana, yang syarat dengan nilai. Permainan yang pada zaman dahulu kala, sangat banyak dimainkan oleh anak-anak di negeri ini.

Coba saja ditanya kepada anak-anak era sekarang alias era kekinian (keki banget). Jangankan memainkan berbagai permainan tradisional tersebut, menyebutkan nama dan jenis-jenis permainan tersebut saja tidak bisa. Jadi jika ingin berharap banyak kepada generasi sekarang, maka sudah waktunya semuanya bergerak. Jika tidak, maka semuanya sudah terlambat. Jangan lagi berharap banyak pada kemajuan teknologi, manakala tidak dibarengi dengan menanamkan karakter yang kuat kepada anak-anak.

Lihat saja negara yang maju pendidikannya, yang sering menjadi kiblat negeri ini dalam mengembakang pendidikan. Setelah sekian lam mereka mengatakan negeri mereka maju, karena bantuan teknologi canggih yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah dan kampus-kampus. Ternyata, sekarang mereka secara terbuka dan dengan kesatria mengakui, bahwa mereka salah besar.

Mendewa-dewakan teknologi yang mengantarkan pendidikan di negara mereka menjadi jauh lebih hebat dari negara lain. Lalu negara berkembang mengadopsi sistim dan cara mereka, lalu melupakan akar budaya dan sejarah negeri mereka sendiri dengan berbagai keunikannya masing-masing. Kini duduk termangu, tidak ada lagi jargon keren yang ingin diteriakkan.

Jika dulu, sangat familiar kita dengan peribahasa "Bagai Pungguk Merindukan Bulan." Kini jika kita analogikan dengan apa yang sedang terjadi sekarang. Maka berbahagialah mereka yang selama ini tidak mendewa-dewakan negara tersebut. Karena ia memahami benar akar budaya negerinya sendiri. Pendidikan itu bukan sekadar membuat anak menjadi pintar dan hebat akademik. Namun rendah nilai-nilai karakternya. Maka hanya akan melahirkan para penjahat-penjahat yang sangat mengerikan. Karena mereka sangat cerdik dan culas dalam urusan kejahatan.

Ternyata berbahagia sekali samg pungguk, yang sudah tidak pernah lagi berharap pada keindahan sang rembulan. Sudah waktunya kita kembali ke jalan yang benar. Ingat. Manusia hebat itu bukan karena menumpuk harta kekayaan, apalagi ditempuh dengan cara yang melanggar ketentuan. Tapi mereka yang memiliki karakter dan integritas yang sangat kuat. Mereka yang tidak akan tergoda dengan rayuan ketamakan dan jabatan. Andaikan diberikan jabatan, mereka akan menunaikannya dengan penuh tanggung jawab. Ah sudahlah. Biarlah pungguk berhenti merindukan bulan. Jika endingnya hanya kepalsuan dan kebohongan. Berpura-pura manis dan tulus, ternyata menikam dari belakang.

***

~~ Sungai Penuh, 060425 ~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post