Ada Apa dengan 1955...?
Tantangan Hari ke-1955
#TantanganGurusiana-6
***
Belajar dari sejarah, menuntun kita untuk mengambil hikmah dari apa yang sudah terjadi, lalu berjuang dan berusaha, agar pesan dan amanat yang disampaikan bisa menjadi panduan untuk menghadapi masa depan. Walaupun seringkali sejarah itu berulang. Jika perulangannya ada sesuatu yang baik, maka berbahagialah rakyatnya. Manakala yang terjadi adalah perulangan keburukan, maka menderitalah rakyatnya.
Hari ini, tepat memasuki hari ke-1955 menulis tanpa henti. Bukan tanpa drama untuk bisa melewati semua tantangan. Berawal dari tantangan 30 hari, lalu naik menjadi 60 hari, akhirnya berhasil menaklukkan 90 hari menulis tanpa henti. Selesaikah sampai disana? Ternyata tantangan masih terus bergulir. Pak Komandan, memberikan titah bahwa tantangan dilanjutkan dengan 120 hari. Itupun masih terus bertahan, sampai akhirnya muncul klub elit Gurusiana 365. Artinya kelompok ini adalah kumpulan guru penulis yang berhasil menuntaskan 365 hari (1 tahun) tanpa terputus menulis dalam tantangan Gurusiana.
Lalu apa kaitannya dengan angka 1955 seperti judul di atas. Tentu saja ada. Tepat 10 tahun Indonesia merdeka, di Kota Bandung berlangsung sebuah perhelatan Konferensi Asia Aprika (KAA). Dimana negara-negara yang berasal dari dua benua ini, bersepakat memperkuat kerjasama dalam rangka melawan kolonialisme. Mengingat banyak negara di dua benua ini, masih berada dibawah penguasaan para penjajah.
Kemudian satu hal lagi yang tercatat dengan indah dan mendapatkan apresiasi dari negara asing. Bahwa Pemilu tahun 1955, merupakan pemilu yang berlangsung dengan sangat demokratis, jujur dan adil. Padahal negaranya baru saja merdeka. Namun sayang, sangat bisa jadi itu merupakan yang pertama dan terakhir dalam sejarah negeri tersebut. Karena sampai sekarang, pemilu hanyalah permainan para elit untuk menipu rakyatnya dengan atas nama demokrasi. Padahal dilaksanakan dengan kecurangan terstruktur dan "keji." Karena menipu rakyat dengan menggunakan uang rakyat.
Apakah ini terjadi, karena rendahnya pendidikan rakyatnya? Sangat bisa jadi ini disengaja. Bukankah amanat UUD, bahwa negara harus memberikan layanan pendidikan yang layak kepada rakyatnya. Tentu saja jika ini dilakukan, maka rakyat menjadi tercerdaskan. Jika itu yang terjadi, maka tidak ada lagi pembodohan demi atas nama rakyat. Tidak ada lagi rakyat yang terusir dari tanah kelahirannya, yang mereka tempati sejak nenek moyangnya sebelum negeri ini merdeka.
Semoga pelajaran berharga dari peristiwa sejarah tahun 1955, mengajarkan kita arti dari sebuah amanah, kejujuran dan keadilan untuk semua. Bukan hanya omong kosong belaka. Jika tidak, maka tunggu saja kehancuran. Negeri ini akan sepenuhnya dikuasai oleh para mafia. Sungguh mengerikan.
***
~~ Mendalo Mas, 220525 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
